Akhir-akhir ini, masalah sampah banyak dibahas di lingkungan masyarakat. Masalahnya adalah menumpuknya sampah plastik. Sampah plastik menjadi masalah yang besar bagi lingkungan karena bahannya yang sulit terurai. Selain sulit terurai, sampah plastik juga menjadi jenis sampah yang mendominasi di masyarakat. Bisa dibayangkan betapa menumpuknya sampah di lingkungan kita jika plastik yang notabenenya sulit terurai mendominasi? Kita simak penjelasan inovasi sedotan dari tanaman rawa ini

Inovasi Sedotan Dari Tanaman Rawa

Mengutip dari The Balance, barang-barang plastik dapat memakan waktu 1000 tahun lamanya untuk terurai di tempat pembungan sampah. Bahkan, kantong plastik yang umum sekali dipakai oleh kita dapat terurai 10 hingga 1000 tahun. Sedangkan botol plastik dapat terutai selama sekitar 450 tahun. Dibandingkan dengan jumlah pemakaian barang-barang plastik sehari-hari, lamanya bahan ini terurai memang tidak seimbang. Sampah plastik terus bertambah setiap harinya, sedangkan penguraiannya tidak bisa secepat yang diharapkan.



Akibatnya, pemerintah gencar mengimbau masyarakat untuk mengurangi jumlah pemakaian barang-barang plastik. Terutama produk plastik sekali pakai. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 142 tahun 2019, yang mewajibkan pengelola pasar tradisional dan swalayan untuk menghindari penggunana kantong plastic sekali pakai dan menggantinya dengan kantong ramah lingkungan. Peraturan ini akan diberlakukan enam bulan setelah diundangkan pada 31 Desember 2019, yakni mulai Juli 2020.

Selain itu, inovasi-inovasi pun terus bermunculan. Selain untuk mengurangi sampah plastik, tetapi juga memanfaatkan bahan-bahan lain untuk dikembangkan. Yang baru-baru ini terus berkembang salah satunya adalah kantong plastik yang berbahan dasar singkong. Kemudian banyak pula imbauan untuk mengganti alat makan plastik menjadi alat makan yang berbahan kayu. Yang paling umum sudah banyak digunakan saat ini adalah sedotan stainless.

Selain itu, tahukah sobat Phi kalau pengrajin asal Indonesia juga terus berinovasi dan menciptakan indovasi sedotan ramah lingkungan lain? Di Desa Banyu Hirang, Amuntai Selatan, Banjarmasin, ada kelompok perajin “Kembang Ilung” yang giat memproduksi inovasi sedotan dari purun. Purun sendiri merupakan tumbuhan rawa dengan nama latinnya Lepironia articulata.

Diketahui sampai saat ini, produknya terus dipasarkan di Indonesia bahkan juga sampai ke luar negeri. Salah satu permintaan terbanyak yang datang kepada kelompok perajin Kembang Ilung dari Belanda. Kelompok yang diketuai oleh Supian Nor ini mendapat permintaan 200 ribu batang sedotan perbulannya.

Meskipun begitu, keterbatasan tenaga dan teknologi pendukung menjadi kesulitan bagi Kembang Ilung untuk memenuhi permintaan tersebut. Mereka biasanya dapat memenuhi setengah dari jumlah permintaan dari Belanda. Produk-produk tersebut nantinya dikirimkan melalui pihak ketiga yang ada di Bali.

Dilansir dari Antaranews, tanaman purun sendiri sering dikeluhkan oleh petani karena mengganggu produksi pertanian tanaman pangan karena pertumbuhan dan penyebarannya yang sangat cepat. Bahkan sering dinilai sebagai gulma, sehingga banyak petani yang membasminya dengan alat pembasmi gulma yang akhirnya jadi mempengaruhi ekosistem setempat, utamanya rawa.

Dengan adanya inovasi sedotan purun, keluhan tersebut dapat diaatasi sekaligus juga mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Sedotan purun pertama kali diproduksi dan diperkenalkan secara komersial oleh Tran Minh, pria asal Vietnam.

Pembuatan sedotan purun melewati beberapa tahap serti pembersihan dengan selang bertekanan tinggi, pencucian dengan sabun, pemotongan barang, pelubangan bagian dalam, pembilasan, dan sterilisasi dengan tambahgi sereh wangi sebelum selanjutnya dikeringkan. Biasanya proses pembuatan memakan waktu lama di bagian pemotongan, karena produsen harus memotongnya secara manual dengan pisau silet untuk menghindari keretakkan.

Dilansir dari web FORDA Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan KEhutanan, dngan adanya inovasi sedotan purun sebagai inovasi yang diminati hingga luar negeri, kelebihan lain pun dapat kita rasakan. Pertama, mengurangi sampah plastik yang menjadi penyebab pencemaran lingkungan, terutama di laut hingga turut mengancam ekosistem laut karena banyaknya sampah bertebaran. Kedua, menjawab permintaan masyarakat untuk peningkatan kesadaran menjaga lingkungan lewat gaya hidup ramah lingkungan. Dan ketiga, sebagai upaya meningkatkan ekonomi lahan basah.

Ismi Hakim Azzahrah

Source: TheBalance, Katadata, Antaranews, FORDA

Chat Bersama Kami
Read previous post:
dua-warga-indonesia-positif-corona
Dua Warga Indonesia Positif Virus Corona

ranu-manduro-ditutup
Sempat Viral, Ranu Manduro Kini Ditutup

imPersona 2020
ImPersona 2020

Close