Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat dan tak terhindarkan memang begitu berpengaruh terhadap perilaku masyarakat dalam mengakses informasi dan hiburan. Pada masa kini live streaming begitu menjamur dimana-mana.

Untuk dapat menyaksikan pertandingan sepakbola, kini siaran eksklusif bukan lagi satu satunya jalan untuk menikmati olahraga kesukaan. Tak perlu lagi bergantung pada sajian saluran televisi tertentu atau bahkan melalui siaran radio yang sangat otentik dan pada masa jayanya setia menemani para orang tua dulu.

Di tengah perkembangan teknologi yang semakin merajalela, muncul sebuah pertanyaan, masihkah relevan menyimak pertandingan sepakbola lewat siaran radio?

Sepakbola dan Gaung Radio

Siaran radio dapat dikatakan masih eksis, namun terkadang masyarakat hanya menjadikan radio sebagai alternatif darurat di antara televisi atau live streaming, apalagi untuk skala sekelas sepakbola.

Artinya, menyimak sebuah pertandingan sepakbola lewat siaran radio hanya dilakukan pada waktu darurat. Salah satunya saat terjebak macet di dalam mobil, yang kadang kala dapat disejajarkan pula dengan menyimak pertandingan sepakbola melalui media sosial.

Giglielmo Marconi, pria asal Bologna Italia itu didaulat sebagai penemu radio, ia menciptakan sebuah alat yang dinamakan sebagai transmitter dan receiver, yang merupakan dasar dari radio. Tanpa temuan tersebut, memori mendengarkan laporan pandangan mata khas Didi Maniaki atau Pujo Hastowo mungkin tak akan tersimpan dalam ingatan. Generasi yang lebih lampau mungkin lebih mengenal suara Sambas yang familar di telinga pecinta sepakbola nasional.



Belum ada catatan pasti pertandingan sepakbola nasional mana yang pertama disiarkan lewat radio. Terlepas dari itu dua catatan penting siaran radio yang memperdengarkan laporan pandangan mata pertandingan Timnas Indonesia tercatat dalam lembar sejarah. Pertama dari majalah olahraga tertanggal 15 Mei 1954.

Dilansir dari Indosport, pada majalah tersebut terdapat sebuah deskripsi foto yang bertuliskan, “Mahargono tampak sedang melakukan siaran pandangan – mata pertandingan Indonesia lawan Djepang pada malam pertama. Disebelahnya kelihatan Mintorogo jang lebih mendalami hal ichwal atletik, tapi suka djuga pada sepak bola. Kedua saudara inilah jang bersedia menulis djuga untuk madjalah kita ini,”

Dapat diyakini bahwa itu merupakan siaran langsung laga antara Timnas Indonesia kala bertemu Jepang di ajang Asian Games II yang dihelat di Manila, Filipina, pada tahun 1954. Kala itu pelatih legendaris Toni Pogacnik yang melatih Indonesia. Sejarah kedua tercatat pada siaran langsung laga antara Indonesia melawan Uni Soviet pada perhelatan Olimpiade Melbourne 1956.

Media cetak Kedaulatan Rakjat pada waktu itu menuliskan bahwa pewarta RRI Jakarta membuat laporan pandangan mata. “Wartawan RRI Djakarta jang membuat siaran pandangan mata kemarin telah mentjutjutkan air mata, karena terharu menjaksikan banteng2 Indonesia mati-matian mempertahankan bentengnjya terhadap serangan2 seru dari pihak raksasa Rusia, 120 menit lamanja pemain2 Indonesia bekerdja mati2an untuk membendung serangan pemain2 Rusia jang keras dan bertubi2 itu. Sympati publik tertudju kepada pemain2 kita, jang selama pertandingan menundjukkan sportiviteit jang tinggi. Wasit (Orang Djepang) berkali-kali melewatkan free kick dan hands!”

Sedangkan untuk laga internasional, BBC jadi yang pertama melaporkan pertandingan antara kesebelasan Arsenal melawan kesebelasan Sheffield United pada 22 Januari 1927.
( Arya Baginda Pangestu)

Sumber: Panditfootball

Chat Bersama Kami
Read previous post:
Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional 2020 Di Thailand
Mahasiswa UGM Raih Penghargaan Internasional 2020 Di Thailand

slbn cicendo
Talkshow With Ibu Ernisa dari SLB Negeri Cicendo

Tadarus Buku AARC Burung Bayan Yang Banyak Bicara dari Pakistan
Tadarus Buku AARC Burung Bayan Yang Banyak Bicara dari Pakistan

Close