BANDUNG, DISDIK JABAR  Salah satu cara sederhana menjaga kesehatan serta terhindar dari virus dan bakteri, yakni rajin mencuci tangan dengan benar. World Health Organization (WHO) menyarankan, teknik mencuci tangan yang benar dilakukan melalui enam langkah.

Pelopor Mencuci Tangan – Ignaz Semmelweis

Nah, siapakah pelopor mencuci tangan dengan benar tersebut? Adalah Ignaz Semmelweis, dokter dari Hungaria yang pertama kali menemukan manfaat mencuci tangan. Ia pun dikenal sebagai “Pelopor Mencuci Tangan”.



Semmelweis lahir di Budapest pada 1 Juli 1818. Ia mendapatkan gelar doktor dari University of Vienna dan gelar master kebidanan. Pada 20 Maret 1847, Semmelweis ditunjuk sebagai dokter kepala klinik bersalin rumah sakit umum di Winna.

Berawal dari Infeksi Misterius

Dikutip dari katadata.co.id, pada era 1800-an di Eropa, banyak ibu yang meninggal dunia setelah demam pasca melahirkan. Dikutip dari News Scientist, sebagian besar dokter percaya bahwa kematian tersebut disebabkan oleh miasma, bakteri yang berasal dari selokan dan tumbuhan.

Berbagai rumah sakit mencegahnya dengan menutup jendela karena bakteri tersebut dianggap menular lewat udara. Namun, Semmelweis yang ketika itu bertugas sebagai asisten profesor di klinik bersalin Vienna General Hospital, Wina, Austria itu punya pendapat lain. Ia berpendapat, para ibu terinfeksi oleh partikel cadaverous yang berasal dari jenazah.

Penyebabnya adalah dokter-dokter yang dalam masa pelatihan, menangani proses bersalin setelah melakukan autopsi jenazah. Pendapat tersebut didasarkan atas temuan ibu yang melahirkan melalui jasa dokter lebih banyak mengalami kematian ketimbang ibu yang melahirkan dengan bantuan bidan. Selain itu, fakta adanya dokter yang meninggal setelah terluka oleh pisau bedah saat autopsi.

Putra dari pasangan József Semmelweis dan Teréz Müller itu pun berinisiatif menganjurkan para dokter untuk membudayakan cuci tangan. Ia memperkenalkan cara mencuci tangan dengan klorin dan lemon untuk para dokter yang telah menangani autopsi. Dikutip dari The Guardian, langkah ini berhasil menurunkan angka kematian akibat demam nifas dari 18% menjadi 1% bagi ibu yang baru pertama melahirkan.

Terkucilkan dan Dianggap Gila

Meski ide cuci tangan Semmelweis berhasil menurunkan angka kematian, namun banyak reaksi penolakan dari kalangan dokter di Wina. Penolakan itu terjadi lantaran para dokter tersinggung dengan pendapat bahwa mereka bisa menyebabkan infeksi.

“Mayoritas dokter di Wina berasal dari keluarga kelas menengah atas dan mereka menganggap diri mereka sebagai orang yang sangat bersih dibandingkan orang miskin kelas pekerja. Ia (Semmelweis) dianggap menghina ketika mengatakan tangan dokter bisa kotor,” ungkap profesor sejarah dari Stony Brook University, Nancy Tomes seperti dikutip The Guardian.

Menukil dari situs Semmelweis Society International, Semmelweis juga diejek oleh komunitas medis di Wina, bahkan dipecat dari tempat kerjanya. Kondisi ini pun memaksanya pindah ke Budapest. Di sana, ia rajin menulis surat terbuka kepada komunitas dokter kandungan di seluruh Eropa.

Melalui surat tersebut, Semmelweis mengekspresikan kemarahannya atas ketidakpedulian para dokter di Eropa. Namun, masyarakat Eropa di zaman itu, termasuk istrinya menganggap Semmelweis telah kehilangan akal sehat karena gemar mencela profesi dokter sebagai “pembunuh yang tidak bertanggung jawab”.

Ia pun dimasukkan ke rumah sakit jiwa pada 1865. Empat belas hari kemudian, ia meninggal, tepatnya pada 13 Agustus 1865, diduga karena dipukuli penjaga.

Semmelweis Effect

Setelah kematiannya, dunia pun mengenal istilah “Semmelweis Effect”, sebuah metafora untuk mendeskripsikan penolakan orang banyak terhadap pengetahuan baru yang bertentangan dengan norma, kepercayaan atau paradigma yang sudah ada. Istilah tersebut terinspirasi dari gambaran reaksi masyarakat Eropa terhadap pemikiran Semmelweis.

Pengetahuannya pun baru diterima secara luas setelah kematiannya melalui penelitian-penelitian yang dilakukan oleh Louis Paster. Ia meneliti tentang bakteri penyebab penyakit dan memberikan penjelasan teoretis atas pemikiran Semmelweis bahwa mencuci tangan bisa menjadi instrumen pencegahan penyakit.

Semmelweis pun berhasil menjadi seorang revolusioner. Tidak hanya di bidang kebidanan, tapi juga kesehatan secara umum karena telah mengajarkan pentingnya mencuci tangan untuk mencegah penyebaran penyakit.

Google pun mengenang Semmelweis dengan menjadikan dirinya sebagai tokoh Google Doodle pada 20 Maret 2020.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, tentu menjadi sesuatu yang bermanfaat jika kita mengikuti saran Semmelweis untuk rajin mencuci tangan.

Yuk, cuci tangan dengan benar!

Sumber : http://disdik.jabarprov.go.id/

Chat Bersama Kami
Read previous post:
1-jadwal-belajar-dirumah-2-thumb
Belajar Di Rumah Tidak Masalah Minggu Ke 2 Masa Pandemik Covid-19

disinfektan-alternatif-covid-19
Disinfektan Alternatif Covid-19

ISRA'-MI'RAJ-NABI-MUHAMMAD-SAW-22-MARET-2020
Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 22 Maret 2020

Close