Phiradio Pindah Ke http://phiradio.tikomdik-disdikjabar.id

Mengenal Distimia Bentuk Depresi Kronis Jangka Panjang, Distimia atau Persistent Depressive Disorder (PDD), adalah salah satu jenis gangguan depresi yang bersifat kronis dan terjadi dalam jangka panjang (persisten).

Gangguan mental distimia, dapat terjadi pada semua kalangan, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa.

Baca Yuk :

Mengenal Distimia Bentuk Depresi Kronis Jangka Panjang

Alasan utama mengapa distimia sulit dikenali, karena orang dapat tertekan tanpa merasakan sedih atau terluka. Orang tersebut menganggap perasaan tertekannya adalah hal yang biasa setiap harinya.

Biasanya seseorang ditekankan untuk harus mempunyai sifat “menerima” dalam hidupnya yang secara tidak langsung keadaan ini mengakibatkan distimia

Distimia biasanya tidak separah depresi berat, namun perasaan depresi yang dialami oleh pengidap distimia dapat berlangsung selama bertahun-tahun dan dapat secara signifikan menyebabkan masalah di sekolah, pekerjaan dan kegiatan sehari-hari.

Penyebab Distimia

Penyebab distimia masih belum diketahui secara pasti. Namun, sama halnya seperti depresi berat, distimia mungkin juga disebabkan oleh lebih dari satu penyebab, diantaranya adalah:

  • Perbedaan Biologis. Orang dengan gangguan depresi persisten mungkin mengalami perubahan fisik pada otak mereka.
  • Peristiwa Kehidupan. Seperti halnya depresi berat, peristiwa berat seperti kehilangan orang yang dicintai, masalah keuangan, atau tingkat stres yang tinggi dapat memicu gangguan depresi persisten atau distimia pada beberapa orang.
  • Sifat Bawaan. Distimia nampaknya lebih sering terjadi pada orang yang kerabat dekatnya juga memiliki kondisi tersebut. Namun, para peneliti masih berusaha menemukan gen yang mungkin terlibat dalam menyebabkan depresi.
  • Kimia Otak. Neurotransmitter adalah bahan kimia otak yang muncul secara alami yang kemungkinan berperan dalam depresi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa perubahan pada fungsi dan efek neurotransmitter ini, serta interaksi mereka dengan neurocircuits yang terlibat dalam menjaga stabilitas suasana hati berperan penting dalam terjadinya depresi dan perawatannya.
  • Riwayat keluarga yang pernah mengalami PDD
  • Pernah mengalami masalah kejiwaan lainnya, seperti kecemasan atau gangguan bipolar
  • Trauma masa lalu, misalnya kehilangan orang yang dicintai atau masalah keuangan
  • Terkena penyakit kronis, seperti penyakit jantung atau diabetes
  • Trauma pada otak, seperti gegar otak

Gejala Distimia

Gejala distimia biasanya datang dan pergi selama beberapa tahun yang intensitasnya bisa berubah seiring waktu. Namun, biasanya gejala dapat bertahan selama lebih dari dua bulan sekaligus. Selain itu, episode depresi mayor dapat terjadi sebelum atau selama distimia, kadang-kadang kondisi ini disebut depresi ganda.

Gejala distimia dapat menyebabkan gangguan yang signifikan, antara lain:

  • Tidak berminat untuk melakukan aktivitas sehari-hari.
  • Merasa sedih, hampa, dan terpuruk.
  • Merasa putus asa.
  • Merasa lelah dan tidak berenergi.
  • Rendah diri, sering mengkritik diri sendiri, dan merasa tidak memiliki kemampuan apa-apa.
  • Mengalami kesulitan untuk berkonsentrasi dan membuat keputusan.
  • Mudah marah dan dapat marah secara berlebihan.
  • Menjadi kurang aktif, dan produktivitas menurun.
  • Menghindari kegiatan sosial.
  • Merasa bersalah dan khawatir tentang masa lalu.
  • Nafsu makan menurun, atau sebaliknya, meningkat secara drastis.
  • Mengalami masalah tidur.
  • Pada anak-anak, gejala distimia dapat berupa perasaan depresi dan mudah marah.
  • Kehilangan kepercayaan diri
  • Produktivitas menurun
  • Menghindari interaksi dengan orang lain
  • Merasa gelisah dan khawatir dalam waktu yang lama
  • Makan lebih sedikit atau lebih banyak dari biasanya
  • Mengalami gangguan tidur
  • Keragu-raguan
  • Sikap negatif

Mereka mungkin juga menunjukkan masalah perilaku, kinerja yang buruk di sekolah, dan kesulitan berinteraksi dengan anak-anak lain dalam situasi sosial. Gejala mereka bisa terlihat datang dan pergi, dan tingkat keparahannya dapat bervariasi dari waktu ke waktu.

Menurut Mayo Clinic, orang-orang yang mengalami distimia juga rentan mengalami hal-hal berikut:

  • Kualitas hidup berkurang
  • Gangguan kecemasan, dan gangguan suasana hati lainnya
  • Kesulitan hubungan dan konflik keluarga
  • Masalah sekolah, pekerjaan dan penurunan produktivitas
  • Nyeri kronis dan penyakit medis umum
  • Muncul pikiran atau perilaku bunuh diri
  • Gangguan kepribadian atau gangguan kesehatan mental lainnya.
  • Penyalahgunaan zat

Pencegahan

Tidak ada cara pasti untuk mencegah gangguan distimia. Namun, mengidentifikasi gejala awal bisa membantu penanganan depresi lebih lanjut. Langkah-langlah yang bisa kita lakukan agar depresi yang dialami tak berkembang menjadi distimia adalah:

  • Ambil langkah-langkah untuk mengendalikan stres, meningkatkan ketahanan dan harga diri
  • Hubungi keluarga dan teman-teman, terutama di saat krisis, untuk membantu menghadapi kesulitan.
  • Meminta bantuan ahli saat merasakan gejala depresi untuk membantu mencegah gejala semakin memburuk.
  • Pertimbangkan untuk mendapatkan perawatan pemeliharaan jangka panjang demi mencegah gejala kambuh kembali.

Sebaiknya jangan melakukan self-diagnosis. Bila kamu mengalami gejala kesehatan tertentu, sebaiknya tanyakan pada dokter mengenai penyebab gejala kesehatan yang kamu alami. Segera cari bantuan dari tenaga profesional untuk mengatasi gejala-gejala tersebut, sehingga kamu dapat beraktivitas dengan normal kembali.

Referensi:

  • https://grhasia.jogjaprov.go.id
  • https://www.halodoc.com
  • https://www.honestdocs.id
  • https://www.alodokter.com
  • https://health.kompas.com
Baca Yuk :

Artikel Pilihan :

Artikel Sebelumnya : «
Artikel Selanjutnya : »

Tags: , , ,