Hari Peduli Autisme Sedunia 2021, setiap tanggal 2 April diperingati sebagai Autism Awareness Day atau Hari Peduli Autis Sedunia. Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia digagas dan disahkan oleh PBB Sejak 2007. Peringatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap autisme dan menciptakan dunia yang lebih baik untuk penyandang autisme.

Hari Peduli Autisme Sedunia

Hari Kesadaran Autisme pertama kali disahkan Majelis Umum PBB pada 1 November 2007 dan ditetapkan pada 18 Desember 2007 melalui Resolusi Majelis Umum PBB 62/139.



Kemudian dalam resolusi tersebut ditetapkan tanggal 2 April sebagai Hari Kesadaran Autisme Sedunia atau sebagai Autism Awareness Day, terhitung sejak tahun 2008. Diharapkan dengan ditetapkannya hari kesadaran autisme sedunia agar lebih awarenes terhadap orang-orang terutama pada anak-anak autis dan lebih dini mendeteksi

Hari Peduli Autisme Sedunia 2021

Setiap tahun peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia mengusung tema yang berbeda-beda dan pada masa pandemi tahun 2021 ini mengusung tema: “Challenges and Opportunities in a Post-Pandemic World.”

Hingga saat ini pun belum ada obat atau terapi khusus yang dapat menyembuhkan autisme. Sehingga gangguan ini bersifat seumur hidup.

Pengertian Autisme

Dilansir dari halodoc.com, Autism spectrum disorder (ASD) atau yang lebih sering disebut autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang memengaruhi perkembangan bahasa dan kemampuan seorang anak untuk berkomunikasi, berinteraksi, serta berperilaku. Bukan hanya autisme, ASD juga mencakup sindrom Asperger, sindrom Heller, dan gangguan perkembangan pervasif (PPD-NOS).

Faktor Risiko Autisme

Faktor-faktor yang dapat menjadi pemicu autisme adalah:

  • Jenis kelamin. Anak laki-laki memiliki risiko hingga 4 kali lebih tinggi mengalami autisme dibandingkan dengan anak perempuan.
  • Faktor keturunan. Orang tua yang mengidap autisme berisiko memiliki anak dengan kelainan yang sama.
  • Penularan selama dalam kandungan.
  • Pengaruh gangguan lainnya, seperti sindrom Down, distrofi otot, neurofibromatosis, sindrom Tourette, lumpuh otak (cerebral palsy) serta sindrom Rett.
  • Kelahiran prematur, khususnya bayi yang lahir pada masa kehamilan 26 minggu atau kurang.

Gejala autisme

Gejala autisme pada bayi dan anak

Dikutip dari National Health Service, gejala autisme pada bayi dan anak  diantaranya adalah sebagai berikut:

  • Tidak memberi respons ketika namanya dipanggil
  • Menghindari kontak mata dengan orang lain
  • Tidak tersenyum, meskipun Anda memberikan senyum pada mereka
  • Melakukan gerakan berulang, seperti mengepakkan tangan, menjentikkan jari, atau mengayunkan tubuh
  • Cenderung pendiam, tidak banyak berceloteh seperti bayi kebanyakan
  • Sering mengulang kata atau frasa yang sama
  • Gejala autisme pada anak yang lebih besar
  • Sulit mengungkapkan perasaan dan mengekspresikan emosi
  • Sulit mengerti apa yang diucapkan, dipikirkan, dan dirasakan orang lain
  • Memiliki minat tinggi pada suatu kegiatan sehingga terkesan obsesif dan melakukan suatu perilaku secara berulang (stimming)
  • Menyukai rutinitas yang terstruktur dan sama. Jika rutinitas terganggu, ia akan sangat marah.
  • Sulit untuk menjalin pertemanan dan lebih suka menyendiri
  • Sering kali menjawab sesuatu yang tidak sesuai dengan pertanyaan. Alih-alih menjawab, mereka lebih sering mengulang apa yang dikatakan orang lain

Gejala autis pada anak laki-laki dan perempuan, terkadang sedikit berbeda. Anak perempuan cenderung lebih tenang dan pendiam, sementara anak laki-laki cenderung lebih hiperaktif. Gejala pada anak perempuan yang “samar-samar” ini menyebabkan diagnosis jadi lebih sulit.

Gejala autisme pada orang dewasa

  • Sulit memahami apa yang dipikirkan atau dirasakan orang lain
  • Sangat cemas dengan berbagai situasi sosial atau kegiatan di luar rutinitas
  • Sulit berteman atau lebih suka menyendiri
  • Sering kali berbicara blak-blakan dan kasar dan menghindari kontak mata dengan orang lain
  • Sulit menunjukkan perasaan pada orang lain
  • Saat berbicara dengan orang lain, posisi tubuhnya akan sangat dekat dengan Anda. Bisa juga sebaliknya, tidak suka orang lain berada terlalu dekat atau melakukan kontak fisik, seperti menyentuh atau memeluk
  • Sangat teliti pada suatu hal yang kecil, berpola, dan mudah terganggu oleh bau atau suara yang dianggap normal oleh orang lain.

Penyebab Autisme

Penyebab autisme sampai saat ini masih belum diketahui. Namun, para ahli mengidentifikasi adanya beberapa gen yang dicurigai memiliki kaitan dengan ASD. Kadang-kadang gen-gen ini muncul dan bermutasi secara spontan. Namun, dalam kasus lain, orang mungkin mewarisi gen tersebut dari orangtua.

Psikiater asal Amerika serikat yang bernama Leo Kanner pada 1943 meyakini jika anak-anak dengan autisme sebenarnya punya level kecerdasan yang normal dan berfungsi baik, akan tetapi hal lain membuatnya terlihat salah.

Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan autisme cenderung punya tingkat kecerdasan (IQ) yang tinggi. Intelligence Quotient (IQ) adalah ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika, dan rasio seseorang

Untuk tindakan penanganan yang dilakukan pada tiap pengidap bisa berbeda-beda. Namun, penanganan yang diberikan pada pengidap autisme umumnya berupa terapi diantaranya adalah terapi perilaku dan komunikasi, terapi keluarga, pemberian obat tidak bisa menyembuhkan autisme, melainkan dapat mengendalikan gejalanya.

Dilansir Kementerian Kesehatan RI, para penyandang autisme bukan seseorang yang mesti dihindari atau perlu dijauhi.  Pengidap autisme kerap menghadapi perundungan. Hal ini kebanyakan karena mereka dinilai menunjukkan perilaku berbeda dan dianggap tak wajar.

Dikutip dari  Autism Support Network dipaparkan sejumlah langkah menghadapi pengidap autisme yang mengalami perundungan. Jika bullying telah terjadi, keluarga atau rekan pengidap autisme perlu menanyakan sedalam mungkin seputar pengalaman buruk yang pernah diterima pengidap autisme agar solusi atau gagasan pencegahan yang akan diimplementasikan nanti tepat guna.

Gangguan-gangguan berupa perundungan secara verbal atau non verbal, pelecehan fisik, sampai stigmatisasi yang menghambat mereka mengakses beragam kesempatan bukanlah hal anyar yang terjadi dalam kehidupannya.

Terkait masalah tersebut, Kementerian kesehatan melakukan beberapa upaya untuk mencegah dan mengendalikan Gangguan Spektrum Autisme (GSA) adalah di antaranya :

  1. Melakukan upaya promotif dan preventif melalui media Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE), sosialisasi, penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat agar dapat melakukan deteksi dini Gangguan Spektrum Autisme.
  2. Melaksanakan pelatihan keterampilan kecakapan hidup bagi guru dan remaja serta pelatihan pola asuh bagi kader dan orang tua
  3. Memberdayakan peran keluarga, guru dan masyarakat untuk mencegah dan mendeteksi dini tanda-tanda Gangguan Spektrum Autisme untuk dapat segera ditindaklanjuti.


Dengan adanya Peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia  atau Autism Awareness Day untuk mengingatkan perlunya kesadaran dan dukungan dari masyarakat atas hak orang dengan autisme untuk mampu menentukan arah perkembangan dirinya sendiri, mandiri dan otonomi, mengakses pendidikan dan pekerjaan dengan azas kesetaraan. Oleh karena itu Stop  memberikan stigma negatif kepada penyandang autisme karena mereka juga memiliki hak yang sama dengan kita untuk menjalani kehidupan. Demikian artikel tentang Hari Peduli Autisme Sedunia  atau Autism Awareness Day, semoga bermanfaat.

Sumber : https://www.febykurniawatirejeki.com/hari-peduli-autisme-sedunia/

Read previous post:
Ingin Kuliah Dapat Beasiswa, Cek Dulu 5 Lembaga Penyedia Beasiswa Berikut Ini!
Ingin Kuliah Dapat Beasiswa, Cek Dulu 5 Lembaga Penyedia Beasiswa Berikut Ini!

Close