Gawat, Dugong Alias Ikan Duyung yang Populasinya Kian Menurun di Pantai Mali NTT. Dugong alias ikan duyung beberapa hari ini mulai ramai diperbincangkan. Mama lia laut ini dikabarkan terancam punah. Populasi dugong di Indonesia mulai menurun. Hal ini tentunya akibat berbagai hal, salah satunya perburuan oleh para nelayan saat melaut.



Dugong adalah salah satu dari 35 jenis mamalia laut di Indonesia, dan merupakan satu-satunya satwa sirenia yang area tempat tinggalnya tidak terbatas pada perairan pesisir.

Nama ilmiah dugong adalah “Dugong dugon” dan istilah “dugong” ini pun diambil dari bahasa Tagalog, “dugong”, yang bersumber dari Bahasa Melayu, “duyung” atau “duyong”, yang bermakna “perempuan laut”.

Gawat, Dugong Alias Ikan Duyung yang Populasinya Kian Menurun di Pantai Mali NTT

Mamalia air ini harus makan setidaknya 50 kilogram rumput laut setiap harinya. Ia dikategorikan sebagai binatang nokturnal atau binatang malam, yang artinya dia mencari makan ketika malam hari.

Mamalia ini hanya bisa menyelam selama 6 menit untuk kemudian harus muncul ke permukaan untuk bernapas. Dugong kadang-kadang berada dalam posisi seperti berdiri dengan kepala berada di atas air untuk bernapas, layaknya manusia.

Ternyata dugong masih diburu hidup-hidup dan dagingnya masih dijadikan konsumsi masyarakat. Padahal berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, Duyung dikategorikan sebagai biota perairan yang dilindungi.

Tak hanya itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga memasukkan dugong sebagai satu dari 20 spesies prioritas. Dugong pun dilindungi UU No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistemnya serta UU No 31 Tahun 2004 tentang Perikanan.

Secara internasional, dugong juga terdaftar dalam “Global Red List of IUCN” dengan status Rentan (Vulnerable/VU). Dugong juga masuk dalam Appendix I CITES (The Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) yang berarti bahwa bagian tubuhnya haram untuk diperdagangkan dalam bentuk apapun.

Lalu, dimana kita bisa melihat dugong yang masih bertahan hidup? Tenang, kamu bisa melihat dugong di Pantai Mali, Kabupaten Alor, Nusa Tenggara Timur (NTT). Pantai ini pun tak jauh dari Bandar Udara Mali. Namun, ada tata cara untuk melihat dugong di Pantai Mali dan ini sudah di atur dalam Peraturan Bupati Kabupaten Alor No. 7/2018.

Pertama, pengunjung tidak boleh berenang atau menyelam di habitat duyung, lalu menceburkan anggota badan ke dalam air atau memegang, memberi makan, mengganggu atau membuat gaduh, dan membuang sampah di pesisir pantai sepanjang perjalanan menuju habitat.

Selanjutnya, untuk melihat dugong hanya diberi waktu maksimal 30 menit. Waktu kunjungan dimulai pukul 09:00 hingga 15:00 waktu setempat. Jumlah kunjungan maksimal 2 kali dalam satu minggu atau maksimal 16 orang per minggu serta beberapa peraturan tertulis lainnya. Namun, wisatawan masih diperbolehkan untuk merekam dan memasukan action camera dengan tongkat ke dalam air.

Dugong Terancam Punah

Kabar tidak enak mengenai dugong baru-baru ini adalah adanya dugong yang terperangkap oleh jaring nelayan, hingga mati lantaran terdampar. Pada Sabtu, 29 Mei 2021.

Hewan ini ditemukan kena perangkap ikan nelayan di pesisir Pantai Mattirotasi, Kota Parepare, Sulawesi Selatan.

Kendati bisa diselamatkan, ada luka di bagian tubuh dugong tersebut. Kondisinya pun dalam keadaan lemah ketika diselamatkan.

Lalu pada 17 Mei lalu, ditemukan seekor dugong yang terdampar di Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur.

Dugong tersebut dalam keadaan mati saat ditemukan. Pun pada akhir April lalu di Pantai Langa Ae, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur, seorang anak dugong ditemukan mati dalam kondisi terdampar dan telah membusuk.

Dugong dan Padang Lamun Perihal mamalia laut ini, populasinya kian berkurang seiring waktu sehingga terancam punah.

Mengutip informasi dari laman LIPI, ancaman ini erat kaitannya dengan keberadaan padang lamun. Padang lamun adalah habitat sekaligus sumber pakan bagi hewan dengan nama lain lembu laut ini.

Lamun adalah jenis tumbuhan berbunga yang hidup di dalam air laut dan sumber pakan utama dugong. Dugong merupakan satu-satunya mamalia herbivora pemakan lamun yang hidup di perairan laut tropis dan subtropis Indo Pasifik.

Keterancaman populasi dugong juga lantara kerap dijadikan satwa buruan karena daging dan minyaknya. Di samping itu, kepunahan dugong diancam usia reproduksinya yang lambat.

Dugong membutuhkan waktu 10 tahun untuk dikategorikan dewasa. Dugong betina juga mengandung selama 14 bulan dan hanya melahirkan satu individu pada interval 2,5-5 tahun.

Terkait data objektif mengenai populasi dugong pun belum jelas. Pada 2016, Agus Dermawan selaku Sekretaris Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengatakan jumlah dugong di Indonesia dalam 10 tahun terakhir jumlahnya masih ada 1.000 ekor.

KKP pun menyatakan bahwa dugong sudah ditetapkan sebagai spesies di antara 20 spesies prioritas yang perlu perlindungan. Soal ancaman punahnya dugong bukan semata wacana. Pengalaman pahit itu pernah terjadi di Eropa.

Menurut Wawan Kiswara, peneliti Pusat Penelitian Oseanografi LIPI, populasi dugong di Eropa punah tahun 1917. 13 tahun kemudian datang penyakit lamun dan lamun pun punah dan tidak pernah tumbuh lagi. Perburuan dan kerusakan padang lamun memang jadi momok bagi dugong.

Di pesisir pantai Indonesia sendiri ada tiga tipe ekosistem yang penting, yakni terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Di antara ketiganya, padang lamun paling sedikit dikenal,.

Kurangnya perhatian kepada padang lamun, antara lain, disebabkan padang lamun sering disalahpahami sebagai lingkungan yang tak ada gunanya, tak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Di kalangan akademisi pun masalah padang lamun baru mulai banyak dibicarakan setelah tahun 2000. Padahal selain manfaat untuk satwa langka seperti dugong, padang lamun pun punya peranan untuk mengikat karbon (blue carbon) dari atmosfer, sebagai tandingan terhadap peranan hutan daratan (green carbon) yang selama ini sangat mendominasi wacana dalam masalah pengikatan karbon dari atmosfer.




Menurut Wawan sendiri, luas padang lamun di Indonesia (2016) diperkirakan mencapai 31.000 km persegi. Sementara yang telah terdata oleh LIPI kala itu, padang lamun baru 25.752 hektare dan tervalidasi dari 29 lokasi. Laut Indonesia sendiri tercatat memiliki 13 spesies lamun dari 60 spesies yang tercatat di dunia.

Sumber :

 


Read previous post:
CPNS-2021
Alasan Pendaftaran CPNS 2021 Batal Dibuka Hari Ini 31 Mei 2021

Close