Adakah Ospek Di Masa Pandemi? Dilansir dari Radioedukasi.kemdikbud.go.id. Di Masa Pandemi Covid-19 ini mengharuskan kita melakukan banyak kegiatan tanpa tatap muka. Seperti kegiatan Orientasi Mahasiswa Baru atau yang biasa kita sebut “Ospek”. Jika sebelumnya ospek dilakukan secara tatap muka dan banyak kampus berlomba untuk menunjukkan kehebohan dan keindahan koreografi ospek. Sekarang ini para mahasiswa senior dituntut untuk memutar otak, agar ospek tetap dapat berjalan sesuai tujuan tanpa mengurangi euphorianya.

Adakah Ospek Di Masa Pandemi?

Lalu, Apakah adanya ospek secara online akan merubah budaya yang ada sebelumnya, baik positif maupun  negatif? Tentunya budaya ini telah lama berlangsung di Indonesia. Beberapa budaya ospek yang ada seperti  memakai atribut-atribut aneh, para kaka tingkat yang galak, dokumentasi foto-foto aib, foto koreografi oleh mahasiswa baru atau pembuatan suatu logo atau tulisan yang dilakukan bersama-sama, masih banyak lagi.



Hari ini, ternyata masih ada para senior yang memberlakukan budaya lama atau budaya militerisme pada ospek daring. Seperti Ospek pada salah satu kampus di Surabaya. Jagat maya sempat dikagetkan dengan adanya video ospek dengan gaya tegas bahkan terkesan galak. Anehnya, suasana tegang tetap tercipta meski ospek berlangsung secara daring. Video berdurasi 30 detik viral itu viral di media sosial sejak Senin (14/9/2020) malam.

Dalam unggahan tersebut,  terdengar suara tinggi sang senior yang meminta untuk memperlihatkan ikat pinggang sang mahasiswa baru.

Seorang mahasiswi baru (maba) yang mengenakan setelan jilbab hitam, rok hitam, dan kemeja lengan panjang motif polkadot, dalam posisi berdiri, menimpali, “enggak ada, mbak”.

“Ikat pinggang kamu mana? Ikat pinggang diperlihatkan!” Seorang senior laki-laki membentak mahasiswa baru lewat layar. “Enggak ada, kak.” Jawab mahasiswa baru itu yang berkerudung dan berkacamata, perempuan, menjawab pertanyaan si panitia.

“Enggak ada. Enggak dibaca tata tertibnya?” Timpal seorang panitia perempuan. Si mahasiswi baru hanya bisa meminta maaf dengan mimik muja memelas. “Maaf, kak.”

Sangat disayangkan ya, di Era modern dan ditengah masa pandemic covid-19 ini masih ada Budaya Militeristik atau budaya kekerasan. Seharusnya lingkungan kampus itu bebas dari perpeloncoan, apalagi untuk dikenalkan kepada mahasiswa barunya.

Seperti kata direktur Jenderal Pendidikan Tinggi kemendikbud Nizam kepada merdekacom, selasa (15/9) “Saya menekankan agar kita membangun kampus yang aman dari bully-ing dan kekerasan seksual, sehat seperti no drug, no smoke, sehat jasmani, rohani, spiritual, emosional, sosial, nyaman inklusif, ramah difabel, tidak ada paham eksklusif”.

Idealnya, menurut Remy Hastain selaku koordinator BEM Seluruh Indonesia (BEM SI), tujuan ospek adalah memberikan penyadaran kepada para mahasiswa baru bahwa pelajar di perguruan tinggi itu juga memiliki fungsi sosial di masyarakat, bukan hanya wajib menuntut ilmu.

“Jangan sampai dihilangkan esensi dan tujuan dari ospek sehingga melenceng [ke] hal-hal yang mewarisi dendam, hal-hal yang tidak baik,”ujarnya.

Masa orientasi yang mengandalkan budaya kekerasan hanya akan menumpulkan nalar kritis mahasiswa. Ini paradoks dengan tujuan utama didirikannya kampus: sebagai mimbar kebebasan akademik. Dengan metode bergaya militer, upaya mencerdaskan dan memerdekakan manusia menjadi hilang. Terang Ubaid Matraji, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI).

Dikutip dari harian kompas.com, sebenarnya apa sih efek yang terjadi bila seseorang dibentak dan dimarahi terhadap kondisi mental seseorang? Psikolog Mario Manuhutu, MSi, dalam perbincangan dengan Kompas.com memberikan pandangannya.
Menurut Mario, bentakan yang dilakukan oknum senior tak jarang menjadi melampaui batas dan berujung pada penghinaan fisik.

Atau, bisa pula mewujud dalam hukuman yang tak sesuai, bahkan sampai terjadi hukuman fisik. “Acaranya orientasi, tapi ngebentaknya ada yang di depan muka, ada body shaming, atau fisik, disuruh push up gitu kan,” ujar Mario, Selasa (15/9/2020).

Bentakan, kata-kata kasar, dan kekerasan verbal, kata Mario, bisa berakibat fatal pada mental seseorang. Sebab, pada dasarnya manusia cenderung mengingat pengalaman-pengalaman buruk di dalam memori. Lalu, ketika hal itu menumpuk akan memicu stres dan memengaruhi kesehatan mental seseorang.

“Masalahnya, setiap orang itu memiliki kapasitas beda-beda saat menerima tekanan, belum lagi kondisi emosional seseorang saat itu (bentakan dan kekerasan verbal) terjadi,” kata Mario. Hal ini bisa memicu trauma dan tentu berakibat pada kehidupan sosialnya sebagai manusia. Belum lagi adanya perasaan benci, dendam, kesal, dan marah saat seorang mahasiswa baru dibentak oleh senior.

Hal itu bisa membuatnya lalu melampiaskan perlakuan yang sama kepada adik kelasnya nanti, yang membuat budaya kekerasan ini terus terjadi. Mario menambahkan, orientasi siswa dengan dibentak-bentak dengan dalih membangun mental mahasiswa baru sudah tak lagi relevan.



Perasaan cemas yang terus terbangun karena ospek salah kaprah yang dilakukan oknum kakak senior akan membuat proses pembelajaran juga akan terganggu.

Mario memberikan saran untuk melakukan orientasi mahasiswa baru tanpa kekerasan, baik verbal maupun fisik. Ospek dapat dilakukan dengan memberikan informasi yang benar. Misalkan, bimbingan kakak senior kepada adik kelas dengan membentuk kelompok-kelompok kecil, yang dalam masa pandemi ini bisa dijalankan secara online.

“Bisa memberikan informasi tentang di mana adik kelas bisa mencari informasi tentang mata kuliah, atau kos terdekat nanti saat kuliah sudah kembali aktif.”

Read previous post:
Persiapan Menghadapi Dunia Kerja : Teknik Membuat CV Yang Baik dan Menarik

Close