Phiradio Pindah Ke http://phiradio.tikomdik-disdikjabar.id

Waspada Bullying di Sekolah, Bullying Jangan dianggap sepele, Melansir dari Kompas.com, Seorang siswa Madrasah Tsanawiyah (MTS) berinisial BT (13), Kotamobagu, Sulawesi Utara, tewas diduga setelah di-bully oleh temannya. Akibat kejadian itu, korban merasa kesakitan di bagian perut, kemudian orangtuanya membawa ke sebuah rumah sakit di Kotamobagu.

Mengutip dari laman suara.com ,“Korban diikat dan dipukuli oleh sembilan pelaku,” kata Kapolres Kotamubagu AKBP Irham Halid melalui Kasi Humas Iptu I Dewa Adiyatna, Senin (13/6/2022)

Baca Yuk :

Waspada Bullying di Sekolah, Bullying Jangan dianggap sepele

Menurut informasi, awal mula korban dianiaya saat dirinya hendak pergi ke masjid sekolah untuk Salat Dzuhur, tiba-tiba ada temannya yang menutupi wajah korban menggunakan sajadah. Di tempat itulah korban diduga mendapat kekerasan dan meringis kesakitan di bagian perut.

Saat pulang sekolah, korban yang mengeluh sakit langsung menceritakan kepada orang tuanya, apa yang dialami di sekolah. Orang tua korban pun langsung membawanya ke rumah sakit Pombudayan untuk dirawat.

Namun korban yang mengalami kelainan usus dirujuk ke rumah sakit Prof Kandou Manado. Meski sudah dilakukan tindakan medis, nyawa korban tidak tertolong dan dinyatakan meninggal pada Minggu 12 Juni 2022.

Pada Sabtu (11/6/2022), siswa tersebut sempat dirujuk ke rumah sakit lainnya. Namun, pada Minggu (12/6/2022), anak tersebut meninggal dunia.

Terkait dengan kejadian itu, Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengatakan, dalam kejadian ini tidak hanya pihak sekolah yang bertanggung jawab, tetapi semua pihak termasuk pemerintah.

Sebab, sambungnya, kasus semacam ini merata di mana-mana. “Semua pihak yang terlibat mesti bertanggung jawab, pemerintah juga, jangan dianggap sebagai kasus sepele dan kecil,” kata Ubaid,

Koordinator Nasional Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) Ubaid Matraji mengatakan, hasil riset JPPI pada 2021-2022 tentang Right to Education Index, yang paling buruk adalah soal savety learning environment.

“Sekolah ramah anak masih sebatas retorika kebijakan saja dan belum well implemented di lapangan. Pengawasan yang buruk dan tidak adanya early warning system ini juga turut andil dalam soal ini,” kata Ubaid

Ubaid mengatakan, untuk menciptakan savety learning environment di sekolah, harus didorong oleh kebijakan pemerintah bagiamana menerapkan di semua sekolah soal sekolah ramah anak ini, jangan hanya di sekolah-sekolah tertentu yang jadi percontohan yang tidak pernah dievaluasi.

Ia menyebut, hal itu bisa dilakukan dengan dengan membangun cara pandang, sikap, dan praktik toleransi aktif, anti kekerasan, peduli lingkungan, empati, dan setia kawan.

Melansir dari Kompas.com 08/03/2021, Mendikbud mengatakan Masih Ada 3 Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan Indonesia.

Tiga dosa dunia pendidikan

Hingga saat ini dunia pendidikan masih dibayang-bayangi oleh tiga dosa besar, yakni:

  1. Intoleransi
  2. Kekerasan seksual
  3. Perundungan

“Ketiga hal tersebut sudah semestinya tidak lagi terjadi di semua jenjang pendidikan yang dialami oleh peserta didik kita. Khususnya perempuan,” ungkap Nadiem.

Bahaya Bullying

Perlu diketahui bahwa bullying merupakan perilaku tidak menyenangkan baik baik secara verbal, fisik, ataupun sosial di dunia nyata maupun dunia maya.

Peristiwa ini tentu menjadi hal yang memprihatinkan di dunia pendidikan. Padahal pemerintah dan berbagai pihak terkait juga telah mengupayakan berbagai program untuk menciptakan sekolah yang aman dan bebas bullying.

Menurut dosen Jurusan Filsafat dan Sosiologi Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Riana Nurhayati, sebenarnya kasus bully sudah terjadi sejak lama. Hal ini dapat dilihat dengan semakin meningkatnya jumlah kekerasan maupun konflik di sekolah.

Meski pemerintah sudah membuat kebijakan akan tetapi belum ada kebijakan yang benar-benar bisa mengatasi bullying di sekolah secara komprehensif.

Kasus bullying sering terjadi di sekolah

Dia mengungkapkan, fenomena kekerasan maupun penindasan ini harus mendapatkan perhatian dan penanganan yang komprehensif. Baik dari pemerintah sekolah maupun orang tua, serta siswa itu sendiri.

“Berkaitan dengan hal tersebut pendidikan memiliki peranan penting karena sebagai institusi yang memiliki peran untuk melakukan control social,” papar Riana kepada Kompas.com, Rabu (15/6/2021).

Riana menerangkan, ternyata bullying ini tidak hanya dilakukan secara individual tapi juga ada yang dilakukan secara kolektif. Sehingga perilaku bullying selalu terjadi secara berulang terutama di sekolah.

Menyadur dari The Asian Parent, bully merupakan sebuah tindakan yang dilakukan oleh seseorang atau kelompok yang tujuannya untuk menyakiti atau mempermalukan orang lain.

Tindakan tersebut dilakukan secara berulang-ulang dan tujuannya membuat korban tidak berdaya dan menderita.

Bullying atau perundungan bisa memberikan dampak jangka panjang maupun jangka pendek. Dan dampak tersebut tak hanya dirasakan oleh korbannya, tapi juga oleh pelakunya.

Dampak terhadap korban bullying:

  • Mengalami gangguan mental seperti depresi, gangguan kecemasan, merasa sedih dan kesepian
  • Syok
  • Takut jika berpapasan dengan pelaku
  • Perubahan pola tidur dan makan
  • Berkurangnya ketertarikan pada hobi atau aktivitas yang disenangi
  • Masalah kesehatan
  • Menurunnya performa akademis
  • Menutup diri dari pergaulan
  • Depresi
  • Bunuh diri

Dampak terhadap pelaku bullying:

  • Penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan terlarang
  • Rentan berkelahi dan merusak barang
  • Beresiko melakukan seks di usia muda
  • Melakukan tindakan kekerasan

Penyebab bullying

Psikolog RS Pondok Indah, Jene Cindy Linardi M.Psi, CGA mengatakan, setidaknya ada empat faktor yang mempengaruhi penyebab terjadinya bullying, di antaranya ada faktor keluarga, sekolah, pertemanan dan tontotan anak.

Berikut adalah faktor-faktor penyebab bullying:

  1. Keluarga
    Salah satu yang menyebabkan anak melakukan bully adalah faktor keluarga. Dalam hal ini perilaku bully tersebut ditunjukkan oleh anggota keluarga seperti seorang ibu yang melakukan kekerasan fisik kepada anggota keluarga lainnya. Selanjutnya adalah orang tua yang kerap melakukan kekerasan verbal seperti komunikasi kasar, penuh makian kepada anak. Selain kedua faktor tersebut, suasana rumah juga bisa memengaruhi keadaan mental seorang anak. Jika suasana dalam rumah tidak terjadi konflik, agresi atau permusuhan, maka perilaku bully yang tumbuh dalam keluarga bisa dicegah.
  2. Sekolah
    Hal ini bisa disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya pihak sekolah kerap mengabaikan tindakan bullying, kurang ketegasan dan minimnya konsekuensi atas tindakan bullying. Jika hal itu terus terjadi, pelaku tidak akan jera dan berani mengulangi melakukan tindakannya
  3. Pertemanan
    Membuktikan diri ingin terlihat kuat dihadapan teman-teman bisa membuat anak melakukan tindak penindasan.
  4. Tontonan anak
    Lebih dari 50 persen anak meniru dari apa yang mereka tonton dari tanyangan televisi atau film. Mereka meniru ucapan dalam dialog film ataupun gerakan-gerakan dalam fim yang mereka tonton, termasuk adegan kekerasan. Hal ini bisa memicu munculnya perilaku bullying pada anak.

Waspada Bullying di Sekolah, Bullying Jangan dianggap sepele

Referensi:

  • Pengamat: Sekolah Ramah Anak Masih Sebatas Retorika Kebijakan Saja, kompas.com
  • Soal Siswa SD dan MTs Tewas Dikeroyok dan Di-bully, Pengamat: Jangan Dianggap Kasus Sepele dan Kecil, kompas.com
  • Mendikbud: Masih Ada 3 Dosa Besar dalam Dunia Pendidikan Indonesia, kompas.com
  • Waspada Bullying di Sekolah, Ini Dampaknya bagi Korban dan Pelaku,kompas.com
  • Jangan Anggap Sepele, Ini Dampak dan Penyebab Bullying di Sekolah, suara.com
  • https://bullyingrecoveryresourcecenter.org
Baca Yuk :

Artikel Pilihan :

Artikel Sebelumnya : «
Artikel Selanjutnya : »

Tags: , , , , , ,