Soal Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 56 Kurikulum Merdeka Disertai Kunci Jawaban. Mari perhatikan contoh soal dan kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD halaman 56 Kurikulum Merdeka yang terdiri dari kumpulan soal esai.

Dalam buku Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka halaman 56, terdapat 6 soal pada bagian Ayo Kita Dalami. Sebelum mengerjakan 6 soal di bagian Ayo Berdiskusi, sebaiknya siswa memahami Bab 2 terlebih dahulu.

Simak berikut adalah contoh soal dan kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD halaman 56 Kurikulum Merdeka. Contoh soal dan kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD halaman 56 Kurikulum Merdeka sejatinya ditujukan kepada orangtua atau wali murid untuk mengoreksi hasil belajar siswa.

Soal Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 56 Kurikulum Merdeka Disertai Kunci Jawaban

Pada Bab 2 Tokoh-Tokoh Khusus Perjanjian Lama Sub Bab Ester Perempuan Pemberani ini, siswa mengenal salah satu tokoh perempuan dalam Perjanjian Lama yaitu Ester perempuan pemberani, sehingga mampu meneladan keberanian Ester dalam hidup sehari-hari.

Kunci jawaban Pendidikan Agama Katolik kelas 5 SD Kurikulum Merdeka halaman 56 Bab 2: Ayo Kita Dalami. (Tangkapan layar Buku Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Halaman 56)

Soal Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 56 Kurikulum Merdeka Disertai Kunci Jawaban

Kunci Jawaban Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Kurikulum Merdeka Halaman 56

Ayo Membaca Cerita

Maria Walanda Maramis, Tokoh Emansipasi dari Minahasa

Perjuangan emansipasi wanita di masa kolonial tak hanya dilakukan oleh R.A. Kartini.

Dari timur Indonesia, kita punya Maria Walanda Maramis.

Dilansir dari Kumpulan Pahlawan Indonesia Terlengkap (2012), Maria Walanda Maramis, yang bernama asli Maria Yosephine Catherina Maramis, lahir di Kema, Sulawesi Utara pada tanggal 1 Desember 1872.

Baca Juga :  KODE REDEEM GENSHIN IMPACT 25 Maret 2024 Terbaru

Di usia 6 tahun, Maria menjadi yatim piatu.

Sejak saat itu, ia diasuh pamannya.

Maria hanya bersekolah sampai tingkat dasar, selama tiga tahun.

Pada waktu itu, anak-anak perempuan di Minahasa tidak diizinkan sekolah lebih tinggi.

Mereka harus tinggal di rumah untuk menunggu dipersunting.

Maria terpaksa menjalani aturan itu.

Soal Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 56 Kurikulum Merdeka Disertai Kunci Jawaban

Kendati demikian, ia banyak bergaul dengan orang terpelajar.

Salah satunya Ten Hove, pendeta Belanda di Maumbi yang menginspirasinya memajukan kaum wanita di Minahasa.

Mengajari Sesama

Di usia 18 tahun, Maria menikah dengan Jozef Frederik Calusung Walanda, seorang guru bahasa di HIS Manado.

Suaminya mengajarkan banyak hal tentang bahasa dan berbagai pengetahuan lain.

Mereka tinggal di Airmadidi dan Maumbi, Minahasa Utara, 10 kilometer arah timur Manado.

Pada waktu itu, wanita di lingkungan tinggal Maria tidak punya banyak pengetahuan soal kesehatan, rumah tangga, dan mengasuh anak.

Diam-diam, Maria berkeliling dari kolong rumah panggung ke kolong rumah panggung yang lain untuk mendidik para perempuan menyulam, memasak, hingga membuat kue.

Ia mempelajari banyak hal dari Ibu Ten Hove.

Pada masa itu, keterampilan menjadi modal berharga di tengah keterbatasan akses pendidikan.

Maria pun mendorong para perempuan yang sudah mahir untuk berbagi keterampilan kepada sesama.

Mendirikan PIKAT

Larangan dan tekanan dari Belanda tak membuat Maria gentar.

Maria mendirikan organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya (PIKAT) tahun 1917 di Manado.

Baca Juga :  Kode Redeem Game Point Blank 25 Maret 2024 Update Terbaru Valid

Berkat kepiawaiannya melobi, Walanda mendapat pinjaman rumah dari pedagang Belanda, A Bollegraf, untuk membuka sekolah rumah tangga, setahun kemudian.

Sekolah ini menampung gadis-gadis pribumi tamatan sekolah rendah dari berbagai kalangan.

Gerakan Maria mendapat dukungan dari banyak pihak.

Berkat kerja kerasnya, PIKAT membuka cabang hingga ke Kalimantan dan Jawa.

Kegiatan organisasi diperkenalkan ke masyarakat melalui karangan-karangan yang dimuat dalam surat kabar.

Kiprah tersebut membuatnya semakin diperhitungkan Belanda.

Pada 1920, Gubernur Jenderal Belanda mengunjungi Sekolah PIKAT dan memberi sumbangan uang.

Atas kebolehannya bernegosiasi pula, Maria Walanda sukses memperjuangkan hak pilih perempuan dalam Badan Perwakilan Minahasa (Volksraad atau Minahasa Raad) tahun 1921.
Walanda diizinkan untuk menyekolahkan dua putrinya, Wilhelmina Frederika dan Anna Pawlona, ke sekolah pendidikan guru di Batavia.

Setamat di sekolah itu, Wilhelmina dan Anna kembali ke Manado mengajar di Hollandsch-Chinescheschool, sekolah yang didirikan Belanda untuk anak-anak keturunan China.

Sayangnya, pada 22 April 1924, Maria tutup usia.

Ia dianugerahi gelar Pahlawan Indonesia pada 20 Mei 1969 berdasarkan SK Presiden Nomor 012/TK/ 1969.

Untuk mengenang jasanya, Pemda Minahasa membangun Monumen Maria Walanda Maramis di Desa Maumbi.

Selain itu, setiap tanggal 1 Desember, rakyat Minahasa memperingati Hari Ibu Maria Walanda Maramis.

Soal Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 56 Kurikulum Merdeka Disertai Kunci Jawaban

Ayo Kita Dalami

Jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut dalam kelompok!

1. Pada usia berapa Maria Walanda Maramis sudah tidak mempunyai orang tua?

Jawaban: Maria Walanda Maramis sudah tidak mempunyai orang tua saat berusia 6 tahun.

2. Bagaimana rasanya menjadi anak yatim piatu dan harus ikut pengasuhan paman?

Jawaban: Maria hanya bersekolah sampai tingkat dasar, selama tiga tahun.

Baca Juga :  KODE REDEEM Mobile Legends 25 Maret 2024 Terbaru

3. Bagaimana situasi anak-anak perempuan pada zaman Maria Walanda Maramis?

Jawaban: Pada waktu itu, anak-anak perempuan di Minahasa tidak diizinkan sekolah lebih tinggi.

Mereka harus tinggal di rumah untuk menunggu dipersunting.

Anak-anak perempuan, termasuk Maria terpaksa menjalani aturan itu.

4. Apa yang dilakukan Maria Walanda Maramis terhadap kaum perempuan di Minahasa?

Jawaban: Maria berkeliling dari kolong rumah panggung ke kolong rumah panggung yang lain untuk mendidik para perempuan menyulam, memasak, hingga membuat kue.

5. Siapa yang memberikan motivasi dan inspirasi Maria Walanda Maramis untuk melakukan tindakan terhadap kaum perempuan di Minahasa?

Jawaban: Maria belajar dari Ten Hove, pendeta Belanda di Maumbi yang menginspirasinya memajukan kaum wanita di Minahasa.

6. Apakah itu PIKAT?

Jawaban: PIKAT adalah organisasi Percintaan Ibu Kepada Anak Temurunnya yang didirikan tahun 1917 di Manado.

Soal Pendidikan Agama Katolik Kelas 5 SD Halaman 56 Kurikulum Merdeka Disertai Kunci Jawaban

Disclaimer:

– Jawaban di atas hanya digunakan oleh orang tua untuk memandu proses belajar anak.

– Sebelum melihat kunci jawaban, siswa harus terlebih dahulu menjawabnya sendiri, setelah itu gunakan artikel ini untuk mengoreksi hasil pekerjaan siswa.

Sumber :