Mahasiswi Teknik Fisika ITB Menjadi Juara Hult Prize On Campus di Jepang 2019, Nur R. Ayukaryana beserta dengan tim Mhaerofilter berhasil menjadi juara pertama dalam kompetisi mahasiswa internasional Hult Prize, pada skala kampus (Hult Prize OnCampus) di Tokyo University of Agriculture and Technology (TUAT), 8 Desember 2019.



Mahasiswi Teknik Fisika ITB Menjadi Juara Hult Prize On Campus di Jepang 2019

Bersama rekannya, Aryanis Mutia Zahra (Insititut Pertanian Bogor), Hua Yajun (Dalian University of Technology China), dan Miki Tatsuma (Tokyo University of Agriculture and Technology), Nur R. Ayukaryana dan tim membawa ide untuk mengembangkan filter dari bahan plastik jenis PET untuk digunakan dalam pengolahan limbah batik sehingga dapat dijual lebih murah kepada industri.

Sesuai dengan tema Hult Prize tahun ini yaitu “Building Startups That Have A Positive Impact on Our Planet with Every Dollar Earned”, ide mereka berhasil mengalahkan 19 tim lainnya di kampus dan akan diikutkan dalam kompetisi regional, Hult Prize Regional, di Jepang pada Maret 2020 sebagai lanjutan dari rangkaian kompetisi.

Ayu, sapaan akrab Nur R. Ayukaryana, bercerita dalam mengikuti kompetisi tersebut awalnya ia hanya memanfaatkan waktu luang sebagai seorang mahasiswa pertukaran ITB-TUAT yang sudah senggang masa perkuliahannya dan akan segera pulang ke Indonesia.

“Kebetulan ada kompetisi Hult Prize ini, jadi aku tergerak mau ikut dan segera bentuk tim,“ ujar Ayu. Awalnya, ia mengajukan penelitiannya terkait superkonduktor sebagai ide kompetisi. Namun, terkendala soal proses bisnis yang tepat dan proyeksi biaya yang mahal, ide ini diganti menjadi pengolahan limbah produksi batik dengan memanfaatkan pengalaman dan kemampuan Aryanis Mutia Zahra dalam penelitiannya soal aerogel.

Ternyata, langkah tim Mhaerofilter menggunakan ide ini adalah pilihan yang sangat tepat. Terbukti, tim Mhaerofilter meraih nilai yang sempurna pada saat penjurian.

Pencapaian ini tentu saja tidak disangka oleh tim mereka, bahkan mereka awalnya cukup pesimis mengingat mereka juga harus berhadapan dengan berbagai tingkatan mahasiswa, dari yang sama-sama sarjana sampai post-doctoral.

Namun, mereka datang ke kompetisi tersebut dengan keyakinan bahwa produk mereka punya dampak yang memang positif dan akan berguna buat orang banyak sehingga mereka terus berusaha melakukan yang terbaik.

Tantangan lain yang dirasakan Ayu selama perlombaan adalah soal mengkomunikasikan sains. “Sebagai seorang CEO Project, saya dituntut untuk bisa berkomunikasi dengan tim dan juga luar tim,“ ungkap Ayu.

Ini menjadikannya harus punya kemampuan komunikasi teknis dan non-teknis yang sama baiknya dalam menjelaskan ide mereka. “Saya bersyukur saya dibekali keilmuan Teknik Fisika yang bisa membantu saya untuk melakukan hal tersebut,“ jawab mahasiswa yang juga aktif dalam berbagai diskusi keilmuan di kampus ini.

Chat Bersama Kami
Read previous post:
Radio
Peran Radio di Masa Perang

kisi kisi un 2020
Kisi Kisi UN 2020

Pemenang Padjajaran Cup Open 2019
Pemenang Padjajaran Cup Open 2019

Close