Dluz.club Portal Fashion Beauty Parenting Wisata

Konsultasi Kesehatan Mental Bukan Berarti Anda Gila. Para ahli mengingatkan bahwa stigma pergi dan berkonsultasi tentang kesehatan mental dengan psikolog klinis atau psikiater adalah orang gila merupakan pemahaman yang salah.

“Hey datang ke psikolog itu tidak hanya orang sakit jiwa,” kata Rifqoh Ihdayati, selaku anggota Ikatan Psikolog Klinis sekaligus Ketua Kongres Nasional IV IPK Indonesia 2021, Kamis (25/11/2021).

Baca Yuk :

Konsultasi Kesehatan Mental Bukan Berarti Anda Gila

Setiap orang memiliki potensi atau peluang mengalami gangguan kesehatan mental. Gangguan kesehatan mental itu tidak selalu disebut orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

Serta, ODGJ sekalipun bukan berarti mereka adalah orang gila seperti yang diasumsikan masyarakat pada umumnya.

Kondisi gangguan kesehatan mental maupun ODGJ memiliki ragam jenisnya, dan ini bisa dialami siapa saja, kapan saja, tanpa melihat gender maupun tingkat sosial seseorang tersebut.

Gangguan jiwa adalah masalah kesehatan yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, berperilaku, dan berinteraksi dengan orang lain secara signifikan.

Hal ini juga ditambahkan oleh Psikolog Forensik Klinik, Dra A. Kasandra Putranto dalam konferensi pers Kongres Nasional IV IPK Indonesia: Peran Psikolog Klinis untuk Kesehatan Jiwa Masyarakat Indonesia, Kamis (25/11/2021).

“Kalau istilah yang sering saya ingatkan ke masyarakat, bukan cuma fisik saja yang butuh medical check up, psikis juga butuh medical check up rutin,” ujarnya.

Menurut Kasandra, kesehatan psikis itu tidak hanya untuk menjaga kesehatan mental kita, tetapi kita tahu kalau psikis kita sehat, tubuh juga akan sehat.

Sebaliknya, sering dijumpai pada orang-orang yang mengalami psikis tidak sehat, kecenderungan fisiknya juga akan ikut tidak sehat, dan masalah gangguan kejiwaan atau kesehatan mental itu beragam.

“Jangan menunggu sampai sudah benar-benar kita sakit baik fisik maupun psikis baru mau berkonsultasi dengan ahli,” kata dia.

Berkonsultasi dengan psikolog klinis tentang gangguan kesehatan mental bukanlah suatu aib. Gangguan kesehatan mental juga tidak boleh dianggap sepele, karena beberapa jenis gangguan jiwa juga bisa berakibat pada kematian.

Adapun, gangguan kesehatan jiwa atau mental yang sering ditemui adalah sebagai berikut.

  1. Gangguan kecemasan : gangguan kecemasan sosial, fobia, panik
  2. Gangguan kepribadian : cenderung memiliki pola pikir, perasaan, atau perilaku yang berbeda dari kebanyakan orang pada umumnya (misalnya Paranoid, skizoid, antisosial, narsistik, histrionik, obsesif kompulsif, avoidant, ketergantungan dan lain-lain).
  3. Gangguan psikotik : gangguan jiwa parah yang menyebabkan munculnya pemikiran dan persepsi yang tidak normal, (misalnya penyakit skizofrenia).
  4. Gangguan suasana hati : perubahan mood yang terjadi sewaktu-waktu bisa jadi disebabkan oleh stres, kelelahan atau tekanan batin (misalnya depresi, gangguan bipolar, dan gangguan siklotimik).
  5. Gangguan makan : gangguan jiwa serius yang membuat perilaku makan seseorang terganggu (misalnya anoreksia nervosa, bulimia nervos, dan binge-eating disorder).
  6. Gangguan obsesif kompulsif (OCD) : gangguan jiwa yang ditandai dengan adanya pikiran dan obsesi yang tidak terkendari terhadap sesuatu.
  7. Gangguan pengendalian impuls dan kecanduan : kondisi tidak dapat menahan dorongan untuk melakukan tindakan yang dapat membahayakan dirinya sendiri atau orang lain, (misalnya berjudi, kleptomania dan menyulut api).
  8. Gangguan stres pascatrauma (PTSD) : gangguan yang berkembang setelah seseorang mengalami kejadian traumatis atau mengerikan, seperti pelecehan seksual atau fisik, kematian orang terdekat atau bencana alam.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kementerian Kesehatan RI tahun 2018, 19 juta penduduk Indonesia berusia 15 tahun ke atas menderita gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta orang diperkirakan mengalami depresi.

Ini artinya ada kecenderungan prevalensi gangguan kesehatan mental ini meningkat jika dibandingkan data tahun 2013.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr Celestinus Eigya Munthe menjelaskan, masalah kesehatan mental di Indonesia terkait dengan masalah tingginya prevalensi orang dengan gangguan jiwa.

Untuk saat ini, Indonesia memiliki prevalensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 4 penduduk, yang artinya sekitar 20 persen populasi di Indonesia mempunyai potensi masalah gangguan jiwa.

“Ini masalah yang sangat tinggi karena 20 persen dari 250 juta jiwa secara keseluruhan potensial mengalami masalah kesehatan jiwa,” kata Celestinus seperti dikutip Kompas.com dari laman Sehat Negeriku oleh Kementerian Kesehatan RI, (7/10/2021).

Artinya, satu psikiater melayani sekitar 250 ribu penduduk dengan gangguan kesehatan mental atau jiwa.

Sementara itu, berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan IPK Indonesia pada akhir 2020 lalu mengenai masalah psikologis yang paling banyak dialami oleh masyarakat selama pandemi Covid-19 cukup beragam.

da 5 jenis masalah psikologis yang paling banyak dialami oleh masyarakat dari usia 20 sampai usia di atas 50 tahun selama pandemi Covid-19 tahun 2020.

  1. Masalah cemas
  2. Masalah depresi
  3. Taruma psikologis
  4. Keinginan bunuh diri
  5. Perubahan emosional

Dengan begitu, setiap orang atau individu yang merasa ada sesuatu yang salah dengan perilaku atau kesehatan psikis yang dirasakan, cobalah untuk bercerita dengan teman atau seseorang yang bisa dipercaya, ataupun dengan tenaga profesional, psikolog klinis dan psikiater untuk mendapatkan saran dan terapi yang tepat.

Konsultasi Kesehatan Mental Bukan Berarti Anda Gila

Sumber : https://www.kompas.com/

Baca Yuk :

Artikel Sebelumnya : «
Artikel Selanjutnya : »

Tags: , , , , , , , ,

Streaming Now