Haniya Azzahra, Salah Satu Inisiator Kolaborasi Mimpi untuk Kaum Difabel. Bagi Haniya Azzahra, masa kuliah di Institut Teknologi Bandung atau ITB jadi masa penuh perjuangan. Salah satu perjuangan alumnus Sistem dan Teknologi Informasi ITB angkatan 2015 yakni mengulang beberapa mata kuliah Tahap Persiapan Bersama atau TPB. Mahasiswa ITB diwajibkan mengikuti TPB selama satu tahun atau 2 semester. Pada masa TPB, mahasiswa akan belajar berbagai mata kuliah dasar sebelum dapat lanjut ke fase jurusan. Mahasiswa penerima beasiswa Bidikmisi ini menuturkan, ia adalah satu-satunya siswa dari SMA-nya yang berhasil masuk ITB.

Haniya Azzahra, Salah Satu Inisiator Kolaborasi Mimpi untuk Kaum Difabel

“Saya masuk ke ITB karena mimpi, keyakinan dan doa orangtua. Oleh karenanya, saya pun tetap harus bertahan di tengah banyak orang hebat di ITB ini,” tutur mahasiswa peraih award Ganesha Karsa 2019 ini seperti dikutip dari laman ITB.



Dia menuturkan, di sisi lain, ia semula merasa kurang percaya diri karena bersaing dengan teman-teman hebat dari berbagai daerah. Dampaknya, pada masa Tahap Persiapan Bersama (TPB), Haniya harus berjuang sangat keras untuk mengalahkan rasa kurang percaya diri tersebut.

Mahasiswa asal Depok ini bercerita, ia terus berusaha mengalahkan pikiran negatif dan rasa pesimis yang muncul. Ia pun mencoba tidak hilang keyakinan meskipun harus mengulang beberapa mata kuliah TPB dan mata kuliah jurusan di ITB. Haniya menuturkan, di setiap kegagalan, ia selalu bersyukur karena itu merupakan pertanda ia telah berusaha maksimal. Ia meyakini, setelahnya, akan datang berbagai bentuk kesuksesan lain yang tidak ia duga. “Aku tidak merasa sedih saat gagal, karena gagal itu biasa. Malah aku bahagia, karena artinya aku sudah berusaha. Yakin saja, pasti ada rezeki selanjutnya,” lanjut Haniya.

Haniya menuturkan, menyadari dirinya kurang cukup baik dalam bidang akademik, ia pun mencari cara untuk tetap berprestasi. Dari situ, ia giat mengikuti kompetisi, baik skala regional maupun nasional. Dia mengatakan, dirinya mendaftar semua jenis perlombaan, bahkan mencoba bekerjasama dengan banyak teman untuk mengikuti kompetisi berbeda. Ia menuturkan, meski kerap kali kurang beruntung, ia tetap tidak menyerah. Dari situ, ia mulai menaruh minat lebih dalam kompetisi bidang business plan.

Haniya bercerita, minat ini mengantarkan ia dan tim dalam menciptakan ide sociopreneur “Kolaborasi Mimpi” yang menjadi mediasi bagi kaum difabel. Dengan bimbingan Adi Mulyanto, ST., MT., Haniya dan tim berhasil menjadi Juara 1 Business and Technology Creation di Universitas Telkom dan Juara 1 IDEAS Business Plan Competition Batch 5 di Universitas Gajah Mada.

Dia menambahkan, dirinya juga berkesempatan mempresentasikan karya paper bersama timnya di ajang Indonesian Scholars International Convention (ISIC) di Nottingham, Inggris, Juni 2019.

Haniya yang dulu sempat menjadi tutor asrama Kanayakan ini menuturkan, setiap perjuangan yang ia upayakan tidak luput dari dukungan keluarga. Baginya, doa orangtua berperan penting dalam setiap langkah hidupnya.




Dia menuturkan, beasiswa Bidikmisi yang diterimanya terkadang ia berikan pada keluarga untuk membantu keuangan keluarga, mengingat ayahnya yang saat itu tengah sakit.

Haniya menuturkan, keadaan keluarga tidak menghambat, justru memacu dirinya untuk terus berusaha. Ia mengaku, beasiswa Bidikmisi terkadang terlambat diterima. Keterlambatan tersebut membuat ia harus bertahan hidup dengan uang Rp50 ribu selama seminggu.

Di sisi lain, lanjutnya, berbekal sugesti positif dan keyakinan kuat akan rezeki Tuhan, ia tidak pernah mau mengeluh dan menyerah. “Aku sangat berterimakasih kepada keluargaku, ayahku Lahmudin Basrie, ibuku Sriwahyu Ningsih, dan saudara kandungku Fathan Fahmi Hakim, Itsnan Abdur Rahman, Fatimah Azzahra, Zahra Nabila Taqwa, dan seluruh keluarga Sri Murtono Putro. Tanpa mereka aku bukan siapa-siapa,” kata Haniya.

Haniya menuturkan, lewat cita-citanya untuk mendirikan usaha, ia ingin menyejahterakan masyarakat tanpa memandang latar belakang. Dengan demikiran, lanjutnya, ia dapat bertanggungjawab akan amanah besar yang telah diterimanya selama ini, yakni beasiswa Bidikmisi.

Dia mengatakan, dengan begitu, ia juga berharap dapat membantu keluarga dan bermanfaat bagi lebih banyak orang, sehingga juga menebarkan kebaikan lebih luas sesuai dengan visi yang dimilikinya. Haniya mengatakan, masa-masa penuh perjuangan di awal perkuliahan, seperti masa TPB di ITB adalah masa yang mendewasakan, sehingga menjadi pribadi tangguh. Kamu setuju nggak, Sobat Phi?

Haniya Azzahra, Salah Satu Inisiator Kolaborasi Mimpi untuk Kaum Difabel

Sumber : //sumber: https://www.detik.com/edu/perguruan-tinggi/d-5626793/kisah-alumni-itb-haniya-azzahra-dapat-beasiswa-dan-mengulang-kuliah


Read previous post:
Bansos Tunai Rp 300.000 Cair Minggu Kedua Maret 2021 untuk Warga Jakarta
Bansos PPKM Darurat Siap Cair Rp300.000

Close