Phiradio Pindah Ke http://phiradio.tikomdik-disdikjabar.id

Bahaya Smiling Depression, Depresi yang Disembunyikan dengan Senyuman, Smiling Depression atau Depresi tersenyum merupakan istilah untuk menggambarkan orang yang menutupi gejala depresi yang ia rasakan dengan cara tersenyum dan menyakinkan orang lain bahwa ia bahagia.

Tidak ada istilah atau diagnosis depresi tersenyum dalam daftar gangguan kesehatan mental . namun demikian, kondisi tersebut sangat nyata.

Baca Yuk :

Bahaya Smiling Depression, Depresi yang Disembunyikan dengan Senyuman

Mengutip Healthline, smiling depression tak diakui sebagai salah satu kondisi medis dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5). Namun, kondisi ini kemungkinan bisa didiagnosis sebagai gangguan depresi mayor dengan ciri-ciri atipikal.

Di luar atau saat berada di lingkungan sosial, seseorang dengan smiling depression akan tampak bahagia atau puas dengan kehidupannya. Namun jauh di lubuk hatinya, mereka mengalami gejala depresi yang intens.

Dikutip dari halodoc.com, Depresi dikaitkan dengan kesedihan, kelesuan, keputusasaan, bahkan membuat pengidapnya tidak memiliki tenaga untuk keluar dari kamar tidurnya.

Smiling depression atau ‘depresi yang tersenyum’ merupakan istilah untuk seseorang yang hidup dengan depresi dalam dirinya, sambil tampak sangat bahagia atau puas di luar.

Mereka tampak gembira dan bahagia, mereka memiliki perasaan putus asa, tidak berharga, dan tidak mampu melakukan apa-apa.

Mereka berjuang dengan depresi dan kegelisahan dalam jangka waktu yang lama. Namun, di saat bersamaan rasa takut akan diskriminasi membuat pikiran mereka kabur, dan secara tak sadar berusaha untuk tampil bahagia di depan orang lain, seolah semuanya baik-baik saja.

Hingga saat ini, smiling depression memang belum digolongkan sebagai salah satu gangguan mental, tetapi kondisi ini dapat disebut sebagai gangguan depresi mayor dengan fitur atipikal.

Sebagai salah satu sub dari depresi, orang dengan smiling depression juga mengalami gejala yang serupa dengan gejala depresi pada umumnya, yaitu:

  • Perubahan nafsu makan, berat badan, dan tidur.
  • Kelelahan atau lesu.
  • Perasaan putus asa, kurangnya harga diri, dan harga diri rendah.
  • Kehilangan minat atau kesenangan dalam melakukan hal-hal yang dulu dinikmati.

Karena smiling depression sendiri belum tergolong sebagai diagnosis gangguan mental, kita pahami dulu gejala depresi secara umum:

  • perasaan tertekan;
  • kehilangan ketertarikan atau kesenangan pada sejumlah besar aktivitas;
  • penurunan atau peningkatan berat badan atau perubahan selera makan yang signifikan ketika tidak melakukan diet;
  • insomnia atau hipersomnia hampir setiap hari;
  • kelelahan atau kehilangan tenaga hampir setiap hari;
  • merasa tidak berharga atau memiliki rasa bersalah yang berlebihan;
  • penurunan kemampuan berpikir atau berkonsentrasi seperti sulit menentukan
  • pilihan;
  • pikiran tentang kematian dan diri yang berulang.

Namun, Perlu diingat bahwa setiap orang bisa saja memiliki tingkat depresi yang berbeda-beda.

Mengutip webmd.com , orang yang mengalami depresi tersenyum cenderung ingin memberi tahu orang lain bahwa mereka merasa baik dan kuat dengan cara melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Jadi keluarga atau orang lain mungkin tidak menyadari bahwa mereka membutuhkan bantuan.

Disebutkan, bahwa orang yang lebih berisiko mengalami situasi ini ialah mereka yang bersifat perfeksionis atau ambisius.

Untuk orang-orang seperti ini, menjaga penampilan lebih utama meski mereka harus berpura-pura merasa baik.

Satu hal yang membedakan depresi tersenyum dari jenis depresi lainnya adalah bahwa hal tersebut sering tidak terlihat dari luar. Orang lain mungkin tidak menyadari bahwa mereka depresi, dan bisa jadi, mereka pun tidak menyadarinya.

Itulah salah satu alasan mengapa depresi tersenyum terkadang bisa lebih berbahaya daripada bentuk depresi ‘klasik’. Bunuh diri menjadi risiko terbesar dari depresi tersenyum.

Orang lain mungkin tidak tahu mereka membutuhkan bantuan tanpa tanda-tanda umum depresi seperti menarik diri, energi yang minim, atau kurang antusias.

Seorang remaja dengan depresi tersenyum mungkin mendapatkan nilai bagus, melakukan banyak kegiatan ekstrakurikuler, dan memiliki banyak teman, namun ia menyembunyikan perasaan yang sebenarnya, bahkan dari orang-orang terdekat mereka.

Dilansir dari Newport Academy, smiling depression juga dikenal sebagai depresi berjalan atau depresi yang berfungsi tinggi. Namun, ini bukan diagnosis yang diakui, karena tidak muncul dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) American Psychiatric Association.

Para ahli percaya bahwa smiling depression sebenarnya merupakan suatu kondisi yang dikenal sebagai gangguan depresi mayor dengan gejala atipikal, yang sebelumnya dikenal sebagai depresi atipikal.

Walaupun pada dasarnya sama dengan gejala depresi berat, apa yang membuatnya “tidak biasa” adalah bahwa gejala tersebut dialami secara internal dan tidak diekspresikan dengan cara apa pun yang terlihat.

Hal lain dari gangguan depresi mayor ini adalah anak dengan kondisi ini mengalami peningkatan suasana hati sebagai respons terhadap peristiwa positif, yang membuatnya tampak “baik-baik saja.”

Remaja dengan smiling depression mungkin mengalami banyak gejala klasik depresi, termasuk kesedihan mendalam, harga diri rendah, dan perubahan dalam kehidupan sehari-hari mereka. Beberapa gejala ini mungkin dapat diamati oleh orang lain, sementara gejala lainnya mungkin dirahasiakan.

Hal-Hal yang Memicu Smiling Depression

Ada beberapa hal yang dapat memicu seseorang mengidap smiling depression, yaitu:

  • Perubahan Besar dalam Hidup
    Seperti halnya jenis depresi lain, depresi tersenyum dapat dipicu oleh suatu situasi, seperti hubungan yang gagal atau kehilangan pekerjaan. Itu juga bisa dialami sebagai keadaan konstan.
  • Pergolakan Batin
    Secara budaya, orang mungkin menghadapi dan mengalami depresi secara berbeda, termasuk merasakan lebih banyak gejala somatik (fisik) daripada yang emosional. Dalam beberapa budaya atau keluarga, tingkat stigma yang lebih tinggi juga dapat berdampak. Misalnya, mengekspresikan emosi dapat dilihat sebagai “meminta perhatian” atau menunjukkan kelemahan atau kemalasan.

Smiling depression bisa saja terjadi pada diri kita jika kita tidak berusaha jujur kepada diri sendiri dan secara sadar menutupi depresi yang kita alami dengan tersenyum. Namun, hal ini bisa juga terjadi secara tidak kita sadari.

Jika kita melihat dari perspektif lain dalam smiling depression, kadang kita menolak kalau kita sedang mengalami depresi. Hal tersebut dikarenakan ego kita sendiri ataupun orang sekitar kita yang tidak atau belum bisa menerima.

Bagi sebagian orang, smiling depression mungkin jadi tameng untuk menghadapi kehidupan yang keras dan dari luar berusaha tetap tegar menjalaninya. Orang yang mengalami smiling depression terlihat sangat normal jika di depan umum.

Ketika seseorang terobsesi menunjukkan kehidupanmu yang ‘sempurna’ di media sosial, hal tersebut dapat berpengaruh buruk pada kesehatan mental.

Mereka yang memiliki smiling depression akan berusaha untuk selalu terlihat bahagia di media sosial walaupun mereka sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Hal tersebut dapat memicu kondisi smile depression menjadi semakin parah.

Dampak buruk dari smiling depression ialah ia tampak begitu aktif dan berenergi, padahal mengalami depresi berat. Dikhawatirkan, energinya digunakan untuk menindaklanjuti pikiran bunuh diri yang sering ia pikirkan. Itulah Bahaya Smiling Depression, yang harus kita hindari, semoga informasi ini bermanfaat.

Bahaya Smiling Depression, Depresi yang Disembunyikan dengan Senyuman

Referensi:

  • What is smiling depression?, medicalnewstoday.com
  • Apa Itu Depresi Tersenyum?, verywellmind-com
  • Smiling Depression: What You Need to Know, healthline.com
  • Seperti Tersenyum, Ini Bahaya Smiling Depression di Balik Sosok Joker, halodoc.com
  • 6 Fakta Unik Smiling Depression, Tersenyum untuk Menutupi Depresi, idntimes.com
  • Mengenal Depresi Tersenyum, Bisa Serang Orang yang Perfeksionis dan Ambisius, sindonews.com
  • What Is Smiling Depression?,goodtherapy.org
Baca Yuk :

Artikel Pilihan :

Artikel Sebelumnya : «
Artikel Selanjutnya : »

Tags: , ,