Harga Kedelai Melejit. Gabungan Koperasi Produsen Tempe Tahu Indonesia memprediksi harga kedelai di pasaran akan kembali pada Februari – Maret 2021. Kondisi tersebut akan terjadi jika pemerintah segera mengambil sejumlah langkah penyesuaian dengan situasi yang terjadi.

Harga Kedelai Melejit

Pemerintah diharapkan dapat segera melakukan penanaman kedelai lokal yang diperkirakan panen sekitar 2-3 bulan ke depan. Dengan demikian, ketersediaan stok kedelai selama 3 bulan ke depan bisa ditimpali dengan hasil panen kedelai lokal. Berdasarkan data Asosiasi Importir Kedelai Indonesia (Akindo) di mana ketersediaan stok kedelai di gudang importir selalu stabil di angka 450.000 ton, dengan kebutuhan untuk para anggota Gakoptindo sebesar 150.000 -160.000 ton per bulan.



Pada Desember 2020 permintaan kedelai China naik dua kali lipat, yaitu dari 15 juta ton menjadi 30 juta ton. Hal ini mengakibatkan berkurangnya kontainer di beberapa pelabuhan Amerika Serikat, seperti di Los Angeles, Long Beach, dan Savannah sehingga terjadi hambatan pasokan terhadap negara importir kedelai lain termasuk Indonesia.

Kementerian Pertanian mengatakan penyebab naiknya harga kedelai impor adalah biaya angkut yang juga kenaikan. Waktu transport impor kedelai yang asalnya ditempuh selama 3 minggu menjadi 6 sampai 9 minggu. Sebagai info tambahan, tingginya impor kedelai bukan semata-semata karena faktor produksi, hal itu terjadi disebabkan kedelai merupakan komoditas non lartas yang bebas impor kapan saja dan berapapun volumenya tanpa melalui rekomendasi Kementan.

Naiknya harga kedelai impor membuat perajin tempe di Banyumas, Jawa Tengah harus memutar otak agar produksinya tetap berjalan. Itulah yang dirasakan Slamet Suwitno, perajin tempe asal Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Banyumas menuturkan harga kedelai impor perlahan naik sejak 10 hari yang lalu.

“Padahal sebelumnya hanya di kisaran Rp 6.800 per kilogram. Sekarang Rp 9.000 per kilogram,” ujarnya, ketika ditemui Senin (4/1). Meski harga kedelai naik, Slamet memilih tidak menaikkan harga tempe.Namun ia hanya memperkecil ukuran tempe dengan mengurangi 5-7 butir kedelai setiap takaran atau cetakan tempe.

Industri tempe rumahan milik Slamet ini membutuhkan 1 kuintal kedelai setiap kali produksi selama empat hari. Oleh karena itu, dia berharap pemerintah dapat menstabilkan harga kedelai.

Hal senada juga dirasakan perajin tempe lainnya, Saenah yang memilih untuk mengurangi produksi. Biasanya, industri rumahan tempatnya bekerja mampu menghasilkan 45 kuintal tempe. Namun, semenjak harga kedelai naik, dia mengurangi produksi hanya 25 kuintal saja.



“Sekarang kedelai Rp 9.100. Produksinya dikurangi jadi 25 kuintal,” ucapnya.

Sebagai informasi Desa Pliken, Kecamatan Kembaran merupakan sentra produksi tempe di Kabupaten Banyumas. Di desa ini terdapat lebih dari 1.000 perajin tempe dengan kebutuhan kedelai mencapai 15 ton per hari.

Harga Kedelai Melejit

Sebelumnya, Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Syailendra mengatakan, kenaikan harga kedelai ini bukan karena stok yang menipis. Namun yang membuat harga kedelai mahal adalah faktor global di mana harga kedelai di tingkat global juga mengalami kenaikan, sehingga berdampak pada harga kedelai impor ke Indonesia.

Read previous post:
bantuan-langsung-tunai-blt
BLT Program Keluarga Harapan PKH Untuk Ibu Rumah Tangga Rp. 200.000

bantuan-langsung-tunai-blt
Cara Mendapatkan BLT Subsidi Gaji

Hari-Gerakan-Sejuta-Pohon
Hari Gerakan Sejuta Pohon 10 Januari 2021

Close