Mengenal Program Organisasi Penggerak

Mengenal Program Organisasi Penggerak

Sobat Phi, pada 2 Maret 2020 lalu Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) secara resmi meluncurkan program Organisasi Penggerak. Organisasi Penggerak ini diharapkan dapat menginisiasi Sekolah Penggerak, yaitu sekolah yang mampu mendemonstrasikan kepemimpinan pembelajaran (instructional leadership) terutama dari kepala sekolah dan guru di dalamnya. Program ini sejalan dnegan komitmen Kemendikbud untuk meningkatkan kualitas hasil belajar siswa.

Mengenal Program Organisasi Penggerak

Dilansir dari laman Kemendikbud, pada dasarnya Sekolah Penggerak memiiliki empat komponen. Pertama, Kepala Sekolah memahami proses pembelajaran siswa dan mampu mengembangkan kemampuan guru dalam mengajar. Kedua, guru berpihak kepada anak dan mengajar sesuai tahap perkembangan siswa.



Selanjutnya yang ketiga, siswa menjadi senang belajar, berakhlak mulia, kritis, kreatif, dan kolaboratif (gotong royong). Dan yang terakhir, terwujudnya komunitas organisasi penggerak yang terdiri dari orang tua, tokoh, serta organisasi kemasyarakatan yang diharapkan dapat menyokong sekolah meningkatkan kualitas belajar siswa.

Dilansir dari laman sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id, program Organisasi Penggerak sendiri merupakan program pemberdayaan masyarakat yang sifatnya masif melalui dukungan pemerintah untuk turut mengupayakan peningkatan kualitas guru dan kepala sekolah berdasarkan model-model pelatihan yang sudah terbukti efektid dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Program ini dilaksanakan dengan melibatkan sejumlah Organisasi Kemasyarakatan yang bergerak di bidang pendidikan. Organisasi yang sudah memiliki rekam jejak yang baik dalam implementasi pelatihan guru dan kepala sekolah lebih diutamakan dalam program ini. Hal ini diterapkan tak lain untuk meningkatkan kemampuan profesional para pendidik dalam meningkatkan kualitas proses dan hasil belajar siswa.

Bagi organisasi yang ingin ikut serta dalam program Organisasi Penggerak, dapat mendaftarkan organisasinya di laman sekolah.penggerak.kemdikbud.go.id. Seperti halnya program-program dengan sukarelawan, Organisasi Penggerak juga menetapkan beberapa Persyaratan Umum dan Persyaratan Khusus bagi organisasi yang hendak bergabung.

Persyaratan Umumnya antara lain:

  1. Memiliki akta pendirian dan telah disahkan oleh notaris;
  2. Memiliki kantor/secretariat;
  3. Memiliki surat keputusan pengesahan sebagai Badan Hukum dari Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia Republik Indonesia;
  4. Memiliki Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART);
  5. Memiliki sumber daya pendukung untuk melaksanakan program sebagaimana diajukan dalam proposal yang ditunjukkan dalam profil lembaga;
  6. Memiliki struktur Organisasi Kemasyarakatan atau perkumpulan;
  7. Memiliki nomor pokok wajib pajak atas nama Organisasi Kemasyarakatan atau anggota dari salah satu pengurus yang namanya tercantum dalam akta notaris; dan
  8. Memiliki nomor rekening bank pemerintah atas nama Organisasi Kemasyarakatan penerima Bantuan.

Sedangkan Persyaratan Khusus yang digunakan saat pengajuan proposal, meliputi:

  1. Memiliki pengalaman dan/atau bukti keberhasilan program di bidang pendidikan di satuan pendidikan.
  2. Mengajukan proposal dalam kurun waktu yang ditetapkan.

Bagi Ormas yang ingin terlibat dalam program ini, dapat mendaftarkan organisasinya mulai tanggal 2 Maret 2020 lalu di laman resmi Sekolah Penggerak. Sedangkan pengajuan proposal dapat dilakukan mulai tanggal 16 Maret – 16 April 2020 mendatang di laman yang sama.

Program ini direncanakan berjalan mulai Juni 2020, dan akan berjalan selama dua tahun hingga 2022 jika semua syarakat dan ketentuannya terpenuhi. Program ini akan mendorong hadirnya Sekolah Penggerak yang berkelanjutan dnegan melibatkan peran serta organisasi. Pada fase pertama yang dimulai pada Juni 2020 mendatang menyasar PAUD formal/luar biasa, sekolah dasar/sekolah dasar luar biasa, serta sekolah menengah pertama/sekolah menengah pertama luar biasa.

Nantinya, Kemendikbud akan memberi bantuan berupa bantuan dana, pemantauan dan evaluasi dampak, serta integrasi program yang terbukti baik ke dalam program Kemendikbud.

Besar bantuan dananya pun bervariasi, dibagi menjadi tiga kategori dengan persyaratan yang berbeda, yaitu:

  1. Kategori I (Gajah) dengan sasaran lebih dari 100 satuan pendidikan, dapat memperoleh bantuan dana maksimal Rp20.000.000.000/tahun;
  2. Kategori II (Macan) dengan sasaran 21-100 satuan pendidikan, dapat memperoleh bantuan dana maksimal Rp5.000.000.000/tahun; dan
  3. Kategori III (Kancil) dengan sasaran 5-20 satuan pendidikan, dapat memperoleh bantuan maksimal Rp1.000.000.000/tahun.

Ismi Hakim Azzahrah

Source: Kemendikbud, Sekolah Penggerak Kemendikbud

Virus Corona Penyebaran dan Penanganannya

Virus Corona Penyebaran dan Penanganannya

Di awal tahun 2020 ini, warga dunia digegerkan dengan penyebaran virus yang ganas. Virus corona namanya, disebut-sebut datang dari Wuhan, Cina dan penyebarannya yang sangat mudah. Bagaimana Virus Corona Penyebaran dan Penanganannya?

Virus Corona 

Masyarakat tampak khawatir dan panik dengan adanya virus corona ini. Otoritas Cina bahkan sampai menetapkan larangan keluar rumah atau daerah tempat tinggal kepada masyarakat China. Hal ini dilakukan untuk mencegah penyebaran lebih luas ke berbagai daerah. Selain itu otoritas China juga membangun dua rumah sakit ‘kilat’ khusus pasien virus corona.



Kedua rumah sakit itu adalah RS Houshenshan, yang ditargetkan beroperasi pada 3 Februari 2020 dengan 1.000 tempat tidur, dan RS Leishenshan yang dijadwalkan beroperasipada 5 Februari 2020 dengan 1.300 tempat tidur.

Mudahnya virus ini menyebar menunjukkan banyaknya warga yang dinyatakan positif corona. Akibatnya, hampir seluruh dunia meningkatkan pengecekan kesehatan terhadap pendatang dari luar negeri untuk menghindari penyebaran virus corona di luar Cina.

Phiradio merangkum beberapa hal yang penting untuk diketahui dari virus corona.

Virus Corona Penyebaran dan Penanganannya

Apa itu virus corona?

Virus corona disebut sebagai kelompok virus yang menyerang manusia oleh otoritas Cina dan World Health Organization. Diketahui sebanyak enam di antaranya sudah diketahui sebelum kemunculan virus corona baru di Wuhan.

Virus corona menyerang ke sistem pernapasan manusia. Virus corona menjadi berbahaya ketika masuk kedalam paru-paru, yang selanjutnya dapat merusak fungsi paru-paru. Penyakit ini dikenal sebagai pneumonia, yaitu peradangan akibat  virus era mikro organisme.

Ketika paru-paru mulai rusak fungsinya, proses pertukaran oksigen menjadi sulit dan menyebabkan kesulitan serta kegagalan napas bagi pengidapnya.

Gejala virus corona dan tindaklanjutnya

Gejala virus corona baru bisa dilihat setelah masa inkubasinya yang berlangsung selama dua sampai 14 hari. Diketahui gejala virus corona cukup umum dan mirip dengan  flu, yaitu bersin, batuk, flu disertai demam. Infeksi yang lebih parah, yaitu ketika virus corona sudah masuk ke dalam paru-paru, gejalanya akan menunjukkan gangguan pernapasan.

Ketika gejala-gejala yang disebutkan mulai terasa, penanganan paling tepat dan efektif adalah memeriksakan diri kedokter. Selain itu istirahat cukup, konsumsi makan bergizi dan suplemen dapat meningkatkan daya tahan tubuh terhadap virus.

Menjaga daya tahan dan kekebalan tubuh menjadi penting agar tubuh kita tidak mudah terinfeksi dengan virus.

Penyebaran virus corona

Virus dapat menyebar melalui udara bebas yang kemudian terhidup  lewat hidung dan mulut, hingga akhirnya masuk kesaluran napas atas, tenggorokan, dan paru-paru. Virus corona sendiri memiliki sifat host specific, yaitu menyebar dari manusia kemanusia dengan penularan langsung. Contohnya melalui bersin atau batuk.

Mencegah penyebaran virus korona

Para ahli kesehatan mengimbau untuk tidak melakukan kontak langsung dengan  orang  yang positif terinfeksi virus. Dianjutkan juga untuk selalu mencuci tangan dengan sabun atau pembersih tangan yang  mengandung alkohol. Selain itu, penggunakan  masker wajah juga menjadi keharusan, termasuk menutup mulut saat bersin atau batuk.

 

Inovasi Sedotan Dari Tanaman Rawa

Inovasi Sedotan Dari Tanaman Rawa

Akhir-akhir ini, masalah sampah banyak dibahas di lingkungan masyarakat. Masalahnya adalah menumpuknya sampah plastik. Sampah plastik menjadi masalah yang besar bagi lingkungan karena bahannya yang sulit terurai. Selain sulit terurai, sampah plastik juga menjadi jenis sampah yang mendominasi di masyarakat. Bisa dibayangkan betapa menumpuknya sampah di lingkungan kita jika plastik yang notabenenya sulit terurai mendominasi? Kita simak penjelasan inovasi sedotan dari tanaman rawa ini

Inovasi Sedotan Dari Tanaman Rawa

Mengutip dari The Balance, barang-barang plastik dapat memakan waktu 1000 tahun lamanya untuk terurai di tempat pembungan sampah. Bahkan, kantong plastik yang umum sekali dipakai oleh kita dapat terurai 10 hingga 1000 tahun. Sedangkan botol plastik dapat terutai selama sekitar 450 tahun. Dibandingkan dengan jumlah pemakaian barang-barang plastik sehari-hari, lamanya bahan ini terurai memang tidak seimbang. Sampah plastik terus bertambah setiap harinya, sedangkan penguraiannya tidak bisa secepat yang diharapkan.



Akibatnya, pemerintah gencar mengimbau masyarakat untuk mengurangi jumlah pemakaian barang-barang plastik. Terutama produk plastik sekali pakai. Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan pun menerbitkan Peraturan Gubernur Nomor 142 tahun 2019, yang mewajibkan pengelola pasar tradisional dan swalayan untuk menghindari penggunana kantong plastic sekali pakai dan menggantinya dengan kantong ramah lingkungan. Peraturan ini akan diberlakukan enam bulan setelah diundangkan pada 31 Desember 2019, yakni mulai Juli 2020.

Selain itu, inovasi-inovasi pun terus bermunculan. Selain untuk mengurangi sampah plastik, tetapi juga memanfaatkan bahan-bahan lain untuk dikembangkan. Yang baru-baru ini terus berkembang salah satunya adalah kantong plastik yang berbahan dasar singkong. Kemudian banyak pula imbauan untuk mengganti alat makan plastik menjadi alat makan yang berbahan kayu. Yang paling umum sudah banyak digunakan saat ini adalah sedotan stainless.

Selain itu, tahukah sobat Phi kalau pengrajin asal Indonesia juga terus berinovasi dan menciptakan indovasi sedotan ramah lingkungan lain? Di Desa Banyu Hirang, Amuntai Selatan, Banjarmasin, ada kelompok perajin “Kembang Ilung” yang giat memproduksi inovasi sedotan dari purun. Purun sendiri merupakan tumbuhan rawa dengan nama latinnya Lepironia articulata.

Diketahui sampai saat ini, produknya terus dipasarkan di Indonesia bahkan juga sampai ke luar negeri. Salah satu permintaan terbanyak yang datang kepada kelompok perajin Kembang Ilung dari Belanda. Kelompok yang diketuai oleh Supian Nor ini mendapat permintaan 200 ribu batang sedotan perbulannya.

Meskipun begitu, keterbatasan tenaga dan teknologi pendukung menjadi kesulitan bagi Kembang Ilung untuk memenuhi permintaan tersebut. Mereka biasanya dapat memenuhi setengah dari jumlah permintaan dari Belanda. Produk-produk tersebut nantinya dikirimkan melalui pihak ketiga yang ada di Bali.

Dilansir dari Antaranews, tanaman purun sendiri sering dikeluhkan oleh petani karena mengganggu produksi pertanian tanaman pangan karena pertumbuhan dan penyebarannya yang sangat cepat. Bahkan sering dinilai sebagai gulma, sehingga banyak petani yang membasminya dengan alat pembasmi gulma yang akhirnya jadi mempengaruhi ekosistem setempat, utamanya rawa.

Dengan adanya inovasi sedotan purun, keluhan tersebut dapat diaatasi sekaligus juga mengurangi penggunaan plastik di kehidupan sehari-hari. Sedotan purun pertama kali diproduksi dan diperkenalkan secara komersial oleh Tran Minh, pria asal Vietnam.

Pembuatan sedotan purun melewati beberapa tahap serti pembersihan dengan selang bertekanan tinggi, pencucian dengan sabun, pemotongan barang, pelubangan bagian dalam, pembilasan, dan sterilisasi dengan tambahgi sereh wangi sebelum selanjutnya dikeringkan. Biasanya proses pembuatan memakan waktu lama di bagian pemotongan, karena produsen harus memotongnya secara manual dengan pisau silet untuk menghindari keretakkan.

Dilansir dari web FORDA Badan Penelitian, Pengembangan dan Inovasi Kementerian Lingkungan Hidup dan KEhutanan, dngan adanya inovasi sedotan purun sebagai inovasi yang diminati hingga luar negeri, kelebihan lain pun dapat kita rasakan. Pertama, mengurangi sampah plastik yang menjadi penyebab pencemaran lingkungan, terutama di laut hingga turut mengancam ekosistem laut karena banyaknya sampah bertebaran. Kedua, menjawab permintaan masyarakat untuk peningkatan kesadaran menjaga lingkungan lewat gaya hidup ramah lingkungan. Dan ketiga, sebagai upaya meningkatkan ekonomi lahan basah.

Ismi Hakim Azzahrah

Source: TheBalance, Katadata, Antaranews, FORDA

Sejarah Tahun Kabisat

Sejarah Tahun Kabisat

Sobat Phi, bisa kah kamu merasakan kemeriahan yang khas di tahun 2020 ini? Angka pada tahun ini memang terbilang cantik, dengan angka 20 kembar. Nah selain itu, pada tahun 2020 juga kita akan bertemu dengan tanggal 29 Februari lho! Tahukah sobat Phi sebutan bagi tahun di mana jumlah hari di bulan Februari bertambah satu? Ya, tahun kabisat.

Sejarah Tahun Kabisat

Tahun kabisat identik dengan tanggal 29 Februari, di mana jumlah hari dalam satu tahun yang biasanya 365 hari akan bertambah menjadi 366 hari. Yang kita kenal saat ini, tahun kabisat adalah tahun di mana jumlahnya habis dibagi empat, contohnya pada tahun 2020 ini. Maka dari itu pula tahun kabisat terjadi selama empat tahun sekali.



Namun sobat Phi, disamping mengetahui keunikannya, penting pula bagi kita untuk mengenal sejarah tahun kabisat sendiri. Dan juga turut mempelajari sejarah dan teori yang menjelaskan kehadiran dari tahun kabisat tersebut.

Istilah kabisat, dalam bahasa Inggris disebut Leap Year, dipopulerkan di era Kaisar Romawi Julius Caesar dengan bantuan astronom asal Alexandria, Sosiogenes. Tahun kabisat terjadi untuk menyeimbangkan dan memperbaiki jadwal waktu bumi dalam mengelilingi matahari, atau revolusi bumi.

Sosiogenes menciptakan kalender Julian dengan perhitungan 365 hari dalam setahun. Sebenarnya, bumi mengelilingi matahari tidak selama 365 hari bulat, melainkan 365,25 hari lamanya. Jadi sebenarnya masih ada seperempat waktu yang tersisa dalam satu hari. Namun Sosiogenes menganggapnya tidak praktis dan perhitungannya pun dibulatkan menjadi 365 hari dalam setahun.

Tapi sobat Phi, jumlah desimal di belakang koma itu tidak semerta-merta dihilangkan lewat pembulatan. Jika ditumpuk, 0,25 hari tersebut akan menjadi satu hari jumlahnya dalam empat tahun. Maka dari itu ditambahkanlah jumlah hari di bulan Februari setiap empat tahun sekali. Akibat penambahan hari pada saat itu, bulan Februari yang awalnya hanya 29 hari, menjadi 30 hari.

Lantas mengapa kah sekarang jumlah hari di bulan Februari hanya ada 28 hari di tahun reguler dan 29 hari di tahun kabisat? Jadi, sistem penanggalan romawi kembali mengalami perubahan pada masa pemerintahan August Caesar. Ia mengganti penanggalan salah satu bulan yaitu bulan August atau Agustus. Sebelumnya, Agustus terdiri dari 30 hari dan atas keputusan August Caesar, bulan Agustus ditambahkan satu hari menjadi 31, dan bulan Februari lah yang dikurangi.

Mengapa harus bulan Februari? Kenapa tidak bulan-bulan yang lain yang harinya dikurangi atau ‘dicomot’? Ternyata pada saat itu, penutup tahun bukan lah bulan Desember, melainkan bulan Februari. Maka dari itulah, Februari menjadi sasaran empuk untuk dikurangi jumlah harinya.

Sebelumnya, Januari dan Februari ditambahkan oleh King Numa Pompilius untuk melengkapi 10 bulan yang sudah ada. Tujuannya adalah untuk memperbaiki jumlah hari dalam setahun.

Pada praktiknya sistem penanggalan terus mengalami perubahan seiring dengan perbaikan yang ada. Susunan nama bulan pun diubah hingga akhirnya berlaku sistem penanggalan yang kita kenal sekarang ini. Begitu pula dengan kriteria kalender kabisat. Karena pada kenyataannya, setelah 1.500 tahun berlaku, masih terdapat kesalahan perhitungan yang menyebabkan ada selisih 10 hari.

Akhirnya, Paus Gregorius XIII membuat kalender Gregorian pada tahun 1582. Bersamaan dengan ini, ditetapkan pula kriteria tahun kabisat. Dari perhitungan kalender Gregorian, tahun kabisat adalah tahun yang habis dibagi empat. Namun perhitungan ini tidak berlaku di pergantian abad atau tahun kelipatan 100. Untuk tahun kelipatan 100, tahun harus bisa dibagi 400, baru lah disebut dengan tahun kabisat.

Perhitungan ini ditetapkan atas adanya fakta baru di mana awalnya dikira bumi berrevolusi selama 365,25 hari, ternyata bumi mengitari matahari selama 365,242 hari.

(Ismi Hakim Azzahrah)

Source: National Geographic, CNN Indonesia.

Perpustakaan Keren Dan Unik Di Indonesia

Perpustakaan Keren Dan Unik Di Indonesia

“Buku adalah jendela dunia” jadi ungkapan bersahabat yang sering kita dengar di kehidupan sehari-hari. Melalui buku, banyak yang bisa kita pelajari. Itu lah mengapa buku disebut sebagai jendela dunia. Banyak informasi yang bisa dipetik dan dipelajari melalui kebiasaan membaca. Ungkapan tersebut sebagai gambaran bagaimana kita bisa mengenal dunia dengan informasi-informasi yang tersedia lewat buku.

Perpustakaan Keren Dan Unik Di Indonesia

Indonesia, disebut-sebut sebagai negara yang rendah literasinya. Bahkan menduduki peringkat kedua terendah dari 61 negara dalam hal literasi. Namun, mengutip dari wartaekonomi.co.id, tingkat kegemaran membaca masyarakat Indonesia itu mengalami peningkatan yang signifikan berdasarkan World Culture Index Score 2018. Datanya menunjukkan, masyarakat Indonesia setidaknya menghabiskan waktu selama enam jam dalam seminggu untuk membaca.



Mulai dari pemerintah, lembaga dan institusi pendidikan, hingga aktivis-aktivis literasi kian gencar melakukan gerakan untuk meningkatkan literasi masyarakat Indonesia. Berbagai bentuk program literasi diselenggarakan, dengan generasi muda sebagai sasaran utamanya.

Selain program-program, ada satu tempat yang diperuntukkan khusus untuk menyediakan kebutuhan informasi masyarakat sekaligus meningkatkan literasi, yaitu perpustakaan. Siapa yang tidak mengenal apa itu perpustakaan, terdapat banyak perpustakaan keren dan unik di Indonesia, karena pada dasarnya perpustakaan bukan lah tempat yang sulit ditemukan. Di sekolah pun pasti memiliki perpustakaannya masing-masing.

Namun, tak jarang kita mendengar stigma tentang perpustakaan yang membosankan. Maka dari itu pembangunan perpustakaan kini didesain semenarik mungkin untuk menjadi tempat yang nyaman dan menyangkal stigma-stigma negatif yang hidup di masyarakat.

Di bawah ini adalah perpustakaan keren dan unik di Indonesia, sobat Phi!

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia

Perpustakaan Nasional Republik Indonesia atau yang sering disebut dengan Perpusnas ini merupakan lembaga pemerintah nonkementerian yang melaksanakan tugas pemerintahan dalam bidang perpustakaan. Perpusnas sendiri memiliki fungsi sebagai perpustakaan pembina, perpustakaan rujukan, perpustakaan deposit, perpustakaan penelitian, perpustakaan pelestarian, dan perpustakaan jejaring perpustakaan. Perpustakaan yang bertanggung jawab kepada Presiden Republik Indonesia ini berada di Jalan Medan Merdeka Selatan Nomor 11, Jakarta Pusat.

Yang menarik dari Perpusnas adalah banyaknya fasilitas yang bisa kita dapatkan. Gedung fasilitas layanan Perpusnas baru merupakan perpustakaan nasional tertinggi di dunia lho sobat Phi. Gedungnya memiliki 27 lantai dengan ketinggian 126,3 meter. Bisa dibayangkan seberapa lengkapnya koleksi buku di sini kan!

Perpustakaan Soeman HS Pekanbaru

Perpustakaan Soeman HS Pekanbaru

Perpustakaan yang berada di Pekanbaru, Riau ini merupakan salah satu perpustakaan dan penyimpanan arsip nasional yang berstatuskan perpustakaan provinsi. Nama perpustakaan ini sendiri diambil dari nama sastrawan sekaligus pejuang nasional asal Riau, Soeman Hasibuan atau Soeman HS.

Keunikan dan sisi keren dari perpustakaan ini sudah bisa dilihat dari bangunannya yang megah. Gedungnya sendiri menjadi landmark kota Pekanbaru. Bentuk bangunannya menyerupai rehal Al-Qur’an atau mirip dengan sebuah buku yang terbuka. Mengutip dari laman resmi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Riau, konsep arsitektur perpustakaan ini mendukung visi Provinsi Riau “Terwujudnya Provinsi Riau sebagai pusat perekonomian & kebudayaan Melayu dalam lingkungan masyarakat yang agamis, sejahtera lahir batin di kawasan Asia Tenggara”.

Selain menjadi perpustakaan keren dan megah, dan manjadi tempat baca serta pusat koleksi buku, perpustakaan ini juga menjadi ruang publik untuk masyarakat Pekanbaru.

Bima Microlibary Bandung

Bima Microlibary Bandung

Dari namanya saja sudah tergambar bahwa perpustakaan ini tidak sebesar perpustakaan pada umumnya. Perpustakaan Bima Microlibary Bandung merupakan perpustakaan mikro yang dibangun untuk menarik perhatian masyarakat agar dapat menggunakan perpustakaan sebagai tempat bersantai. Desain bangunan perpustakaan ini menerima penghargaan Public Vote and Jury Award di Architizer A+ Awards 2017, program penghargaan bagi produk arsitektur terbesar di dunia.

Perpustakaan yang berlokasi di Jalan Bima, Kota Bandung ini menjadi perpustakaan yang juga ramah lingkungan. Pembangunannya memanfaatkan bahan daur ulang berupa 2.000 ember plastik bekas es krim untuk dijadikan dinding perpustakaan. Tak sampai di situ saja keunikannya, ember-ember tersebut didesain untuk membentuk kode biner (binary codes) dari kalimat “Buku adalah jendela dunia”.

Kode biner sendiri merupakan sebuah sistem pengkodean pengganti huruf dalam bentuk angka 1 dan 0 yang ditemukan oleh Gottfried Wilhelm Leibniz pada abad ke-17. Pada gedung perpustakaan ini, angka 0 digambarkan dengan ember yang terbuka dan angka 1 digambarkan dengan ember yang ditutup.

Perpustakaan Universitas Indonesia

Perpustakaan Universitas Indonesia

Perpustakaan yang satu ini merupakan kepemilikan Universitas Indonesia. Mengutip dari IDN times, perpustakaan UI ini adalah perpustakaan terbesar se-Asia Tenggara. Gedungnya diberi nama Crystal of Knowledge. Gedung yang dibangun sejak Juni 2009 ini memiliki koleksi buku yang banyak, bisa mencapai tiga hingga lima juta judul buku.

Selain itu, yang menarik dari perpustaan ini adalah fasilitasnya yang dianggap sangat mewah. Bisa dikatakan, perpustakaan UI tidak hanya berfungsi sebagai tempat baca atau perpustakaan pada umumnya. Fasilitas kenyamanan lain juga turut ditawarkan, seperti adanya Starbucks dan Gold’s Gym, serta Books and Beyond atau took buku yang menjual koleksi buku luar negeri. Restoran dan minimarket juga turut hadir di gedung perpustakaan UI. Selain itu, para pengunjung juga difasilitasi komputer apple (iMac) di perpustakaannya.

Grahatama Pustaka Yogyakarta

Grahatama-Pustaka-Yogyakarta

Perpustakaan ini bisa sobat Phi kunjungi jika ingin mencari buku-vuku langka. Pasalnya, perspustakaan ini memiliki koleksi buku langka yang dicetak kembali baik dalam bentuk fisik maupun digital. Perpustakaan yang bertempat di Jalan Janti Nomor 344, Yogyakarta ini juga menjadi perpustakaan yang ramah difabel.

Beberapa fasilitas untuk difabel turut disediakan, salah satunya yang berbasis literasi braille. Sebanyak 2.500 koleksi braille dimiliki Grahatama Pustaka. Selain itu, gedung ini juga dirancang untuk mengakomodasi fungsi perpustakaan sebagai institusi yang mampu memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi dan rekreasi bagi masyarakat luas.

Perpustakaan Universitas Malahayati, Bandar Lampung

Perpustakaan Universitas Malahayati, Bandar Lampung

Perpustakaan yang satu ini merupakan kepemilikan Universitas Malahayati. Yang menjadi unik dan keren dari perpustakaan ini adalah konsep sajian perpustakaan. Di dalamnya, kita tidak akan menemukan konsep perpustakaan yang membosankan, karena adanya suasana sejuk dari sungai buatan yang juga berfungsi sebagai kolam ikan. Sungai buatan ini memiliki lebar 1,5 meter. Terdapat pohon buatan yang rindang juga untuk menciptakan suasana sejuk di dalam perpustakaan.

Selain itu, perpustakaan Universitas Malahayati turut menyajikan kekayaan budaya Indonesia dengan pengadaan miniatur rumah adat yang di dalamnya tersedia meja panjang untuk pengunjung menikmati bacaannya. Konsep perpustakaan ini datang dari ide Rusli Bintang, pendiri Universitas Malahayati sendiri.

Demikian informasi perpustakaan keren dan unik di Indonesia, sobat Phi! Semoga bermanfaat.

( Ismi Hakim Azzahrah )

Source: Quipper, Wikipedia, Dipersip Provinsi Riau, Wisata Sumatera, Archdaily, GNFI, IDN Times, Liputan6

Pekan Olahraga Nasional Papua 2020

Pekan Olahraga Nasional Papua 2020

Tahun 2020 tampak menjadi tahun yang penuh dengan perhelatan akbar dalam bidang olahraga. Bulan Juli mendatang, perhelatan olahraga akbar, Olimpiade Tokyo 2020 di dunia akan diselenggarakan. Beberapa atlet Indonesia (baca di: https://www.phiradio.net/altet-atlet-indonesia-di-olimpiade-2020/) turut ikut serta memperebutkan medali Olimpiade dari berbagai cabang olahraga. Setelahnya, Pekan Olahraga Nasional pun akan digelar pada bukan Oktober 2020 mendatang.

Pekan Olahraga Nasional Papua 2020



Pekan Olahraga Nasional atau PON merupakan perhelatan olahraga akbar tingkat nasional yang diselenggarakan selama empat tahun sekali. Empat tahun lalu, kemeriahan PON dapat langsung terasa oleh masyarakat Jawa Barat karena berperan sebagai tuan rumah. Jawa Barat sendiri sudah empat kali menjadi juara umum PON, mulai dari awal diselenggarakannya pada tahun 1948.

Tahun ini, PON akan digelar di tanah timur Indonesia, yakni Papua pada tanggal 20 Oktober-2 November 2020. Dilansir dari Wikipedia, sebanyak 37 cabang olahraga akan dipertandingkan pada ajang bergengsi tingkat nasional ini. Pekan Olahraga Nasional Papua 2020 ini merupakan perhelatan PON yang ke-20.

Nah sobat Phi, pada perhelatan olahraga, tidak hanya pertandingannya saja yang memeriahkan rangkaian acara. Kompetisi olahraga skala besar biasanya memiliki logo dan maskot sendiri untuk memberi ciri khas pada kegiatan ini. PON Papua 2020 menonjolkan ciri khas dan keunikan daerahnya untuk dijadikan maskot. Dua karakter baru yang diciptakan sebagai maskot merupakan gambaran dari hewan endemik Papua, kangguru pohon dan burung cendrawasih.

Pengurus Besar PON 2020 Papua secara resmi memperkenalkan kedua maskot ini pada bulan November lalu, bersamaan dengan countdown 333 hari sebelum pelaksanaan. Nama dari dua karakter maskot pun diambil dari nama asli hewannya. Kangpo, merupakan singkatan dari kangguru pohon, dan Drawa diambil dari kata cendrawasih. Tak hanya memperkenalkan hewan endemik Papua, kedua maskot juga menggunakan dandanan dari adat Papua.

Kangpo didandani dengan rumbai di kepala dan pinggangnya. Rumbai tersebut merupakan busana kebesaran untuk kaum laki-laki dan perempuan di Papua. Ukiran yang terdapat pada ikat pinggang yang digunakannya pun menggunakan desain yang khas di Papua.

Yang tak kalah menarik, Kangpo dipakaikan mahkota yang menggambarkan gunung tinggi. Di puncaknya, terdapat ilustrasi es yang menegaskan bahwa gunung tersebut adalah gunung bersalju. Siapa yang tidak tahu, bahwa negara kita, Indonesia ini memiliki puncak gunung es abadi Jayawijaya yang berada di Papua. Padahal, negara kita merupakan negara tropis.

Maskot lainnya adalah Drawa, burung cenderawasih yang sama-sama didandani dengan rumbai dan mahkota. Untuk menggambarkan sebuah kompetisi, ia dikalungkan medali di lehernya. Medali tersebut menggunakan tali berwarna merah-putih untuk menandakan kebersamaan memperebutkan medali dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Seperti halnya burung cendrawasih, tubuh Drawa diberi warna oranye yang juga membawa makna kehangatan, persahabatan, dan cinta kasih. Serta warna kuning di kepalanya untuk menggambarkan semangat, kehangatan dan kegembiraan.

“Torang Bisa!” merupakan ungkapan semangat khas Papua yang kemudian dijadikan jargon dari Pekan Olahraga Nasional Papua 2020 ini. Tidak hanya sebagai penyaluran semangat untuk para atlet, juga sebagai pengenalan ungkapan semangat khas Papua kepada masyarakat luas.

Ismi Hakim Azzahrah

Sumber : https://regional.kompas.com/read/2019/12/13/11324461/perkenalkan-ini-dua-maskot-untuk-pon-xx-papua-2020?page=all

Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari 2020

Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari 2020

Tahukah sobat Phi kalau tanggal 21 Februari itu merupakan Hari Bahasa Ibu Internasional? Peringatan ini ditetapkan oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization atau UNESCO. Sampai tahun 2020 ini, peringatannya telah berjalan selama 21 tahun, setelah dikukuhkan pada tanggal 17 November 1999 lalu.

Hari Bahasa Ibu Internasional 21 Februari 2020

Dengan adanya peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional ini, UNESCO sebagai bagian dari Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengajak seluruh negara di dunia untuk turut mengingat keberagaman bahasa yang juga turut menjadi sebuah kekayaan dunia yang patut untuk diingat.



Pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), bahasa ibu sendiri diartikan sebagai bahasa pertama yang dikuasai manusia sejak lahir melalui interaksi dengan sesama anggota masyarakat bahasanya, seperti keluarga dan masyarakat lingkungannya. Contohnya, anak yang lahir di suatu daerah akan mampu berbicara dengan bahasa daerahnya karena pengaruh lingkungan sekitarnya. Bahasa daerah yang ia pakai adalah bahasa ibunya. Selanjutnya, ia akan mengenal bahasa Indonesia sebagai bahasa tutur yang sifatnya formal.

Sejarah Hari Bahasa Ibu Internasional

Inisiatif ditentukannya hari peringatan ini datang dari seorang Bangli atau warga Bangladesh bernama Rafiqul Islam yang tinggal di Vancouver, Kanada yang menuliskan surat ke Sekretaris Jenderal PBB, Kofi Annan. Surat itu ditulisnya pada tanggal 9 Januari 1998. Di dalam surat, ia meminta PBB untuk mengambil langkah guna menyelamatkan bahasa dunia dari kepunahan. Dan kemudian menyarankan untuk mendeklarasikan Hari Bahasa Ibu Internasional (International Mother Language Day).

PBB kemudian mengindahkan permintaan itu dan menetapkan Hari Bahasa Ibu Internasional pada 21 Februari, dan diresmikan pada 17 November 1999. 21 Februari dipilih PBB atas adanya peristiwa sejarah yang melatarbelakangi. Pada tanggal tersebut di tahun 1952, terdapat peristiwa Gerakan Bahasa Bengali yang merupakan usaha politik di Pakistan Timus (sekarang Bangladesh) agar pemerintah meresmikan bahasa Bengali sebagai bahasa resmi Pakistan.

Negara Pakistan sendiri pada kemerdekaannya di tahun 1947 memiliki dua wilayah yang latar belakang budaya, geografis, dan bahasanya berbeda. Namun, pemerintah Pakiskan pada tahun 1948 meresmikan bahasa Urdu (bahasa masyarakat Pakistan Barat) sebagai satu-satunya bahasa resmi Pakistan. Padahal pada saat itu, mayoritas penduduk Pakistan berasal dari wilayah timus. Keputusan inilah yang memunculkan ketegangan antara masyarakat di kedua wilayah tersebut hingga akhirnya mahasiswa Universitas Dhaka dan aktivis politik di Pakistan Timut melakukan demonstrasi pada 21 Februari 1952.

Peristiwa ini diwarnai kerusuhan hingga penghilangan nyawa yang dilakukan oleh polisi kepada beberapa demonstran. Selanjutnya peristiwa ini memberikan pengaruh budaya yang besar kepada perkembangan bahasa, sastra dan budaya Bengali. Di Bangladesh sendiri, 21 Februari dirayakan sebagai Hari Gerakan Bahasa atau Shohid Dibosh (Hari Martir). Dan kini turut diperingati sebagai Hari Bahasa Ibu Internasional.

Bahasa Ibu di Indonesia

Dilansir dari surat edaran pers oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Indonesia menempati urutan kedua sebagai negara yang memiliki jumlah bahasa terbanyak di dunia. Hal ini menunjukkan betapa Indonesia kaya akan budaya, dalam hal ini bahasa. Masyarakat Indonesia telah hidup dalam keberagaman sejak dahulu. Maka dari itu pula, pelestariannya menjadi salah satu hal yang harus didukung oleh segala pihak.

Dalam surat edaran persnya, Kemendikbud turut melaporkan kegiatan perlindungan bahasa yang dilakukan oleh Badan Bahasa hingga tahun 2020. Kegiatan tersebut meliputi pemetaan, kajian vitalitas, konservasi, revitalisasi, hingga registrasi bahasa. Hasilnya, saat ini Indonesia telah mengidentifikasi 718 bahasa ibu dengan 778 dialek dan 43 subdialek.

Masing-masing bahasa tersebut juga memiliki status atau vitalitasi bahasa. Status ini menunjukkan kehidupan bahasa di lingkungan sehari-hari dan perkembangannya. Mulai dari aman, rentan, mengalami kemunduran, terancam punah, kritis, hingga punah. Menurut data tersebut, 11 bahasa di Indonesia telah punah dan 6 bahasa lainnya berstatus kritis.

Mengutip Liputan6.com, Kepala Pusat Pengembangan dan Perlindungan Bahasa, Dr. Hurip Danu Ismadi mengatakan perlu adanya usaha serius, seperti memasukkan pembahasan bahasa dalam ranah pendidikan, pembuatan kamus, dan melakukan penelitian tentang kondisi khusus bahasa (yang berstatus kritis) tersebut untuk menjauhkannya dari kepunuhan. Pernyataan ini disampaikannya di Kemendikbud, 21 Februari 2020 lalu pada peringatan Hari Bahasa Ibu Internasional.

(Ismi Hakim Azzahrah)

Source: Kemendikbud, Liputan6.com. Wikipedia
https://www.kemdikbud.go.id/main/blog/2020/02/peringatan-hari-bahasa-ibu-internasional-tahun-2020
https://www.liputan6.com/news/read/4184648/semakin-banyak-bahasa-daerah-punah-kita-bisa-apa
https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Bahasa_Bengali#Warisan
https://id.wikipedia.org/wiki/Hari_Bahasa_Ibu_Internasional

Sejarah Ujian Nasional

Sejarah Ujian Nasional

Pelaksanaan Ujian Nasional disebut akan berakhir di tahun 2020 dengan diterapkannya Merdeka Belajar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Nadiem Makarim. Uji kelulusan siswa nantinya akan diganti dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Asesmen ini sendiri terdiri dari tes kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter.

Sejarah Ujian Nasional

Ujian Nasional atau UN sendiri di Indonesia berperan sebagai sistem evaluasi standar pendidikan yang dilaksanakan secara nasional. Pelaksanaannya ada pada jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah.



Tahukah sobat Phi bahwa istilah tes hasil belajar akhir ini sempat berganti-ganti sebelum ditetapkannya istilah ‘Ujian Nasional’? Dilansir dari laman Puspendik Kemendikbud, Phiradio merangkum sejarah Ujian Nasional mulai dari pertama dilaksanakannya.

Periode 1950-1964

Ujian akhir nasional pertama kali diselenggarakan pada tahun 1950. Awalnya istilah ujian akhir ini disebut sebagai Ujian Penghabisan dan diadakan secara nasional. Ujian Penghabisan dilakukan hingga tahun 1964, dengan Departemen Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan sebagai pembuat soal. Pada saat itu, siswa diharuskan menjawab soal yang bentuknya uraian/essai. Selanjutnya jawaban siswa akan diperiksa oleh pusat rayon di mana sekolah masing-masingnya berada.

Periode 1965-1971

Istilah Ujian Penghabisan mulai diubah menjadi Ujian Negara. Tujuan pelaksanaannya adalah untuk menentukan kelulusan. Pada masa ini, siswa yang dinyatakan lulus dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang sekolah negeri atau perguruan tinggi negeri. Namun, bagi siswa yang tidak lulus Ujian Negara, meski tetap mendapatkan ijazah, siswa hanya dapat melanjutkan pendidikan ke sekolah atau perguruan tinggi swasta.

Bahan Ujian Negara disiapkan seluruhnya oleh pemerintah pusat dengan bentuk soal uraian, seperti halnya Ujian Penghabisn. Pemerintah pusat dibantu oleh panitia ujian di masing-masing wilayah (provinsi) bertanggung jawab atas penyelenggarakan ujian. Meski pelaksanaan, pengawasan, dan pengolahan hasil ujian ditetapkan oleh Pusat, pemeriksaan dilakukan di tingkat kabupaten/kota dengan batas kelulusan adalah nilai 6.

Periode 1972-1979

Pada periode ini, ujian akhir diserahkan sepenuhnya kepada sekolah. Istilahnya pun berganti menjadi Ujian Sekolah. Ujian ini ditujukan untuk menentukan peserta didik tamat atau telah menyelesaikan program belajar pada satuan pendidikan. Mulai dari bahan ujian, penilaian, bentuk soal, semuanya ditentukan oleh sekolah/kelompok sekolah. Maka standar nilai dan beban mutu soalnya pun cenderung beragam tergantung kepada sekolah/kelompok sekolah yang menentukan. Pemerintah pusat pada periode ini berperan hanya sebagai penentu pedoman penilaian yang bersifat umum saja.

Periode 1980-2002

Ujian berstandar nasional kembali diberlakukan pada tahun 1980 dengan istilah Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional atau Ebtanas dan Ebta. Tujuan pelaksanaan ujian ini adalah untuk memperoleh Surat Tanda Tamat Belajar (STTB). Perbedaan anatara Ebta dan Ebtanas terletak pada mata pelajaran yang iujikan. Untuk mata pelajaran pokok akan diujikan di Ebtanas dan Ebta untuk mata pelajaran non-Ebtanas. Bahan uji Ebtanas disiapkan oleh Direktorat Pendidikan Dasar dan Menengan, sedangkan bahan uji Ebta disiapkan masing-masing sekolah/daerah/wilayah. Sama halnya dengan Ujian Sekolah, nilai batas ambang siswa dinyatakan TAMAT belajar adalah 6.

Periode 2003-2004

Istilah Ebtanas kembali diganti menjadi Ujian Akhir Nasional (UAN). Selain untuk menentukan kelulusan, tujuan UAN juga mencakup pemetaan mutu pendidikan secara nasional, dan seleksi ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Sebanyak tiga mata pelajaran yaitu Matematika, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris diujikan. Pusat Penilaian Pendidikan (Puspendik) menjadi penanggung jawab persiapan soal dari Bank Soal Nasional. Sedangkan mata pelajaran lainnya disiapkan oleh sekolah atau daerah dengan menggunakan Standar Kompetensi Kelulusan dari Puspendik. Bentuk soalnya adalah pilihan ganda dengan pemeriksaan melakukan teknologi scanning dan scoring yang dilakukan di provinsi.

Periode 2005-sekarang

Istilah ujian akhir lagi-lagi mengalami perubahan menjadi Ujian Nasional (UN). Namun, teknis pelaksanaannya masih sama UN dilaksanakan untuk mengukup pencapaian kompetensi lulusan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah. Selain itu, hasil UN juga digunakan untuk pemetaan tingkat pencapaian hasil belajar siswa. Biasanya, standar kelulusan siswa selalu mengalami peningkatan tiap tahunnya.

Seiring dengan perkembangan dan perubahan teknisnya, UN Perbaikan juga mulai diselenggarakan dan diperuntukkan bagi siswa yang tidak berhasil mencapai standar kelulusan siswa. Selain itu, pelaksanaan UN juga tidak hanya menggunakan media kertas saja melainkan juga menggunakan komputer, atau kita kenal dengan istilah Ujian Nasonal Berbasis Komputer (UNBK).

Nah Sobat Phi, dengan diterapkannya Merdeka Belajar, penghapusan Ujian Nasional menjadi salah satu poinnya. Mulai tahun 2021, penyelenggaraan UN akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimun dan Survei Karakter. Pelaksanaan ujiannya berada di tengah jenjang sekolah seperti kelas 4, 8, dan 11.

Ismi Hakim Azzahrah )

Sumber : Puspendik Kemendikbud, TirtoID

Prosedur Pendaftaran KIP Kuliah

Prosedur Pendaftaran KIP Kuliah

Pemberian bantuan pendidikan untuk mahasiswa akan dilaksanakan oleh pemerintah melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah pada tahun 2020 ini. KIP Kuliah merupakan kartu identitas penerima bantuan biaya pendidikan dari pemerintah bagi lulusan SMA sederajat. Bantuan ini diperuntukkan bagi siswa yang memiliki potensi akademik, juga bagi siswa yang memiliki keterbatasan ekonomi untuk melaksanakan pendidikan di perguruan tinggi.



Prosedur Pendaftaran KIP Kuliah

Terdapat dua jenis KIP Kuliah yang dikeluarkan oleh pemerintah. Pertama, KIP Kuliah bagi penerima dari kalangan umum. Dan yang kedua adalah KIP Kuliah Afirmasi, yang diperuntukkan bagi siswa difabel, peserta program Afirmasi Pendidikan Tinggi (ADik) bagi warga di Papua dan Papua Barat, siswa di wilayah 3T (terdepan, terluar, atau tertinggal), serta kawasan terdampak bencana atau konflik.

Bagi calon mahasiswa baru lulusan SMA/SMK/MA sederajat pada tahun 2018-2020 dapat mendaftar untuk mendapatkan KIP Kuliah tahun 2020. Pendaftaran akan dibuka pada awal Maret 2020 melalui laman resmi Kemendikbud di kip-kuliah.kemendikbud.go.id.

Dikutip dari Kompas.com, simak langkah pendaftaran KIP Kuliah, di bawah ini.

  1. Pendaftaran melakukan pendaftaran langsung secara mandiri di web Sistem KIP Kuliah pada laman kip-kuliah.kemendikbud.go.id atau melalui KIP Kuliah mobile apps.
  2. Siswa memasukkan Nomor Induk Kependudukan (NIK), Nomor Induk Siswa Nasional (NISN), Nomor Pokok Sekolah Nasional (NPSN), dan alamat email yang valid dan aktif.
  3. Sistem KIP Kuliah selanjutnya akan melakukan validasi NIK, NISN, dan NPSN serta kelayakan mendapatkan KIP Kuliah.
  4. Ketika proses validasi dinyatakan berhasil, Sistem KIP Kuliah akan mengirimkan Nomor Pendaftaran dan Kode Akses ke alamat email yang didaftarkan.
  5. Siswa menyelesaikan proses pendaftaran KIP Kuliah dan memilih jalur seleksi masuk mahasiswa baru yang akan diikuti.
  6. Selanjutnya siswa menyelesaikan pendaftaran di portal atau sistem indormasi seleksi masuk mahasiswa baru yang dipilih.
  7. Sebelum Sistem Pendaftaran KIP Kuliah dibuka, siswa dapat melakukan pandaftaran terlebih dahulu di portal atau sistem informasi seleksi nasional (SNMPTN dan SBMPTN). Proses sinkronisasi dengan sistem nantinya dilakukan kemudian dengan skema host-to-host.
  8. Bagi calon penerima KIP Kuliah yang dinyatakan lolos di Perguruan Tinggi, dapat dilakukan verifikasi lebih lanjut oleh Perguruan Tinggi sebelum diusulkan sebagai calon mahasiswa penerima KIP Kuliah.

Serupa dengan calon mahasiswa baru jalur seleksi SNMPTN dan SBMPTN, KIP Kuliah juga bisa didapatkan oleh siswa lulusan SMA sederajat pada tahun berjalan atau telah dinyatakan lulus maksimal 2 tahun sebelumnya. Penyeleksian akan didasarkan oleh dokumen-dokumen yang sah yang menunjukkan potensi akademik siswa dengan keterbatasan latar belakang ekonomi. Perlu pula diingat, pendaftaran KIP Kuliah tidak memerlukan biaya.

Selain itu, bantuan melalui KIP Kuliah diketahui lebih luas cakupannya dibandingkan dengan Bidikmisi di tahun 2019. Bidikmisi 2019 memberikan 130.000 beasiswa kepada mahasiswa dengan latar belakang ekonomi yang terbatas. Sedangkan KIP Kuliah ditargetkan dapat memberi bantuan biaya pendidikan pada 818.000 mahasiswa, yang mana 398.000 ribunya adalah mahasiswa aktif penerima bidikmis, dan 420.000 lainnya adalah mahasiswa baru.

(Ismi Hakim Azzahrah)

Sumber : Jawapos, Kompas, Tirto

Perbedaan Jenjang Pendidikan Diploma Dan Sarjana

Perbedaan Jenjang Pendidikan Diploma Dan Sarjana

Berbagai jalur penerimaan mahasiwa baru sudah mulai dibuka. Mulai dari perguruan tinggi negeri hingga perguruan tinggi swasta. Bukan hanya untuk siswa Sekolah Menengah Atas (SMA) tingkat akhir saja yang perlu untuk mempersiapkan bekal pilihan jurusan. Tetapi penting pula untuk siswa kelas 10 dan kelas 11 untuk mulai mencari tahu tentang beberapa pilihan jurusan dan jenjang pendidikan yang ada.

Perbedaan Jenjang Pendidikan Diploma Dan Sarjana

Di Indonesia terdapat beberapa program pendidikan tinggi yang diterapkan. Hal ini diatur dalam Pasal 19 Undang-Undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sitem Pendidikan Nasional, yang menyatakan, pendidikan tinggi merupakan jenjang pendidikan setelah pendidikan menengah yang mencakup program pendidikan diploma, sarjana, magister, spesialis, dan doktor.



Yang selanjutnya pada pasal 20 UU No.20 tahun 2003 disebutkan, perguruan tinggi dapat menyelenggarakan program akademik, profesi, dan/atau vokasi. Program tersebut memiliki perbedaan, cermati pengertian ketiganya sebagai berikut:

  1. Pendidikan Akademik, yaitu pendidikan tinggi program sarjana dan pasca sarjana yang diarahkan terutama pada penguasaan disiplin ilmu pengetahuan tertentu, yang mencakup sarjana (S1), magister (S2), dan doctoral (S3);
  2. Pendidikan vokasi, yaitu pendidikan tinggi yang diarahkan untuk memiliki keahlian terapan tertentu, meliputi program pendidikan diploma (D1/Ahli Pratama, D2/Ahli Muda, D3/Ahli Madya, dan D4/SarjanaTerapan yang setara dengan program pendidikan S1); dan
  3. Pendidikan profesi, yaitu pendidikan tinggi setelah program sarjana yang diarahkan untuk memiliki keahlian profesi tertentu. Lulusannya akan mendapatkan gelar profesi.

Bagi sobat Phi yang baru saja lulus SMA dan hendak melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi, pilihan program yang dapat ditekuni adalah pendidikan akademik S1 dan pendidikan vokasi D1, D2, D3, dan D4. Untuk mengetahui perbedaan masing-masingnya, Phiradio merangkumnya sebagai berikut.

Diploma Satu (D1)

Masa belajar pendidikan D1 terbilang singkat, hanya satu tahun saja dengan mengedepankan keterampilan siap kerja. Selama dua semester, mahasiswa D1 mendapatkan 32 Satuan Kredit Semester (SKS). Saat kuliah, mahasiswa dipersiapkan untuk menguasai satu kemampuan atau skill tertentu. Lulusan D1 akan mendapatkan gelar A.P. atau disebut Ahli Pratama dengan kualifikasi tenaga terampil di dunia kerja.

Diploma Dua (D2)

Pada program D2, mahasiswa akan menempuh masa belajar selama dua tahun atau empat semester. Dengan perolehan SKS sebanyak 64 SKS. Teori dan praktik yang didapatkan pada jenjang pendidikan D2 tentunya akan lebih banyak dibandingkan D1. Mahasiswa sama-sama dibekali untuk menguasai kemampuan atau skill tertentu. Sederhananya, perbedaan paling signifikan antara D1 dan D2 hanya masa tempuh belajarnya saja. Lulusan D2 akan mendapatkan gelar A.Ma atau Ahli Muda.

Diploma Tiga (D3)

Dibandingkan dengan jenjang pendidikan sebelumnya, yang satu ini cukup banyak diminati oleh calon mahasiswa. Masa tempuh belajarnya selama 3 tahun dengan perolehan 112 SKS. Syarat kelulusannya meliputi penyelesaian praktik kerja dan laporan karya ilmiah. Hal ini tidak jauh berbeda dengan jenjang D1 dan D2. Kelak, lulusannya akan mendapat gelar A.Md. atau Ahli Madya.

Diploma Empat (D4)

Jenjang pendidikan yang satu ini kerap disamakan dengan program sarjana. Lulusannya pun disebut sarjana terapan. Tak jauh berbeda dengan S1, masa tempuh belajarnya membutuhkan waktu empat tahun dengan menyelesaikan 144 SKS. Bedanya, program D4 lebih mempelajari ilmu praktik atau ilmu terapan. Seperti halnya program diploma yang lain, menyelesaikan kerja praktik dan laporan karya ilmiah menjadi syarat kelulusan bagi mahasiswa D4. Dan kelak lulusannya akan mendapat gelar Sarjana Sains Terapan atau S.ST.

Strata 1 (S1)

Jenjang pendidikan tinggi program sarjana mempelajari hal-hal yang sifatnya teoritis. Kebanyakan lulusannya unggul dalam penguasaan teoritis dibandingkan terapan. Meskipun pada praktik ajarnya, tetap ada praktik pada bidang yang ditekuni. Masa tempuh belajarnya dibutuhkan waktu selama 4-6 tahun, dengan menyelesaikan 144-160 SKS. Namun pada kenyataannya, banyak pula mahasiswa S1 yang lulus sebelum atau melebihi masa ajar. Lulusan S1 kelak akan mendapat gelar Sarjana yang diawali dengan huruf  “S” dan diikuti dengan kode singkatan dari bidang ilmu yang ditekuni.

Nah sobat Phi, sudah paham perbedaan antara D1, D2, D3, D4, dan S1? Semoga dengan penjelasan di atas dapat membantu sobat Phi untuk memilih jurusan dan kampus impian yang sesuai dengan minat sobat Phi. (Ismi Hakim Azzahrah)